Home News Jangan Tertipu! Ikan Sapu-Sapu Hanya Kambing Hitam, Terbongkar Fakta Mengejutkan di Balik Rusaknya Sungai Kita
News

Jangan Tertipu! Ikan Sapu-Sapu Hanya Kambing Hitam, Terbongkar Fakta Mengejutkan di Balik Rusaknya Sungai Kita

Share
Jangan tertipu! Ikan sapu-sapu bukan perusak ekosistem. Diskusi FIB UI bongkar fakta mengejutkan akar kerusakan sungai dan krisis lingkungan kita.
Foto penangkapan ikan sapu-sapu di sungai Jakarta - Dok. Infopublik -
Share

Jakarta, Danantaranews.id – Selama ini masyarakat kerap kali menunjuk ikan sapu-sapu saat melihat ekosistem aliran sungai hancur. Spesies invasif ini selalu menanggung beban sebagai pelaku utama penyebab kerusakan lingkungan air. Namun, tahukah Anda bahwa anggapan tersebut justru sangat menyesatkan? Komunitas Serambi Disertasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) siap membongkar tuntas ironi pengelolaan lingkungan ini melalui sebuah diskusi publik bertajuk “Sungai Yang Bermasalah, Ikan Sapu-sapu Yang Disalahkan”.

Publik harus segera membuka mata bahwa keberadaan ikan sapu-sapu di perairan kita sesungguhnya menjadi indikator nyata dari persoalan tata kelola sungai yang jauh lebih kronis. Spesies ini bertahan hidup di tengah kepungan pencemaran air yang parah, hilangnya vegetasi riparian pelindung tepian, tumpukan sedimentasi, hingga rusaknya tata ruang kota. Alih-alih membenahi tata kelola daerah aliran sungai dan lingkungan perkotaan yang keropos, kita sering kali mengambil jalan pintas dengan mencari kambing hitam atas krisis ekologis yang terjadi. Tanpa sadar, akar persoalan struktural akibat laju pembangunan yang tidak terkendali justru sengaja kita abaikan begitu saja.

Mengubah Sudut Pandang: Sungai Sebagai Ruang Sosial dan Budaya

Melalui forum diskusi yang akan berlangsung pada Jumat, 15 Mei 2026, mulai pukul 17.00 WIB di Serambi Disertasi FIB UI ini, para akademisi mengajak publik merombak cara pandang secara radikal. Kita tidak boleh lagi menilai sungai semata-mata sebagai ruang ekologis belaka. Saat ini, sungai telah menjelma menjadi ruang sosial, budaya, ekonomi, dan ruang politik yang terus-menerus menderita tekanan hebat akibat kerakusan aktivitas manusia modern.

Ketua Komunitas Serambi Disertasi FIB UI, Nanang Asfarinal, menegaskan bahwa diskusi Jumatan ini memiliki visi besar untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat melihat krisis lingkungan secara lebih jernih, terbuka, dan multidimensional. Ia menyoroti pentingnya kajian mendalam sebelum masyarakat bertindak reaktif terhadap isu alam.

“Forum ini mengajak kita melihat persoalan dari beragam sudut pandang dan mengedepankan kajian untuk mendalami serta memahami persoalan sebelum mengambil tindakan yang sporadis. Melalui ruang intelektual ini, kita bertukar pikiran dengan kewarasan dalam berpikir untuk memahami kompleksitas persoalan sungai dan lingkungan,” papar Nanang dengan tegas memberikan pencerahan.

Hadirkan Pakar Lintas Disiplin dan Jenderal Penyelamat Lingkungan

Untuk membedah persoalan pelik ini hingga ke akarnya, panitia penyelenggara menghadirkan tokoh-tokoh top dari lintas disiplin ilmu yang memiliki rekam jejak panjang. Pembicara pertama adalah Endra Saleh Atmawidjaja, figur penting yang menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia. Kehadirannya memberikan jaminan bahwa perdebatan akan menyentuh aspek teknis sanitasi dan tata kelola air yang tepat sasaran.

Pembicara kedua yang sangat inspiratif adalah Letnan Jenderal TNI M. Mohamad Hasan. Selain menjabat sebagai Dankodiklatad, beliau merupakan Pendiri Relawan Indonesia Pembela Alam. Letjen Hasan mengantongi pengalaman lapangan yang luar biasa. Saat masih memegang tongkat komando sebagai Danrem Bogor, beliau terjun langsung ke lumpur memimpin berbagai gerakan heroik penyelamatan alam, khususnya aksi nyata menyelamatkan urat nadi Sungai Ciliwung. Ketajaman analisis dari kedua tokoh ini kemudian akan mendapatkan tanggapan kritis sekaligus simpulan komprehensif dari Prof. Manneke yang hadir sebagai penanggap utama.

Seni Perlawanan dan Kisah Pilu Pedagang Siomay Keliling

Menariknya, diskusi krisis ekologis ini menghindari suasana akademik yang kaku. Acara akan langsung menggebrak kesadaran peserta lewat sajian performance art memukau dari seniman Mbeing. Sang seniman akan mengilustrasikan gerakan patah-patah ikan sapu-sapu, membangun metafora yang menyayat hati tentang makhluk yang terus tersudutkan dan selalu disalahkan oleh keserakahan manusia. Pertunjukan teatrikal ini akan menyatu dengan lantunan pembacaan puisi yang merefleksikan hubungan intim manusia dengan sungai, memori masa lalu tata kota, serta rasa cemas yang kini menghantui masyarakat urban perkotaan.

Tidak berhenti pada ranah seni, panitia menyiapkan satu kejutan simbolik untuk menyentil empati publik. Selama diskusi berlangsung, penyelenggara sengaja menghidangkan menu siomay bagi para peserta. Pemilihan kuliner ini merangkum sebuah bentuk refleksi sosial yang sangat dalam atas dampak mengerikan isu liar ikan sapu-sapu di ruang publik. Beberapa waktu lalu, simpang siur informasi yang menyesatkan mengenai spesies ini sempat menghantam keras sendi kehidupan para pedagang makanan berbasis ikan, terutama nasib para penjual siomay keliling.

Hanya karena termakan hoaks dan ketakutan tidak berdasar, masyarakat memberikan stigma negatif yang membuat omzet pedagang kecil hancur lebur. Melalui simbol kuliner siomay ini, penyelenggara membuktikan fakta yang tak terbantahkan: sebuah isu ekologis tidak pernah hanya berdampak pada alam liar. Kerusakan lingkungan selalu menjalar liar, menyentuh langsung denyut nadi kehidupan sosial, dan mencekik urat nadi ekonomi masyarakat kecil yang paling rentan.

Pada akhirnya, dengan merajut ketajaman analisis akademik, kelembutan seni pertunjukan, refleksi publik yang jujur, serta penggunaan simbol budaya keseharian, panitia Serambi Disertasi FIB UI berharap kuat forum ini melahirkan solusi yang membumi. Ruang dialog ini dipersiapkan menjadi titik tolak yang lebih manusiawi, kritis, dan berkeadaban bagi bangsa Indonesia dalam membaca, merawat, dan memulihkan kembali denyut nadi sungai dari ancaman krisis lingkungan di masa depan. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Bursa Efek Indonesia Diujung Tanduk! Skandal Transparansi Picu IHSG Longsor 8 Persen

Jakarta, danantaranews.id – Badai besar tengah menerjang pasar modal tanah air. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hingga 8 persen pada penutupan...

Trump Mengamuk! Ancam Kenakan Tarif Impor Tambahan bagi Negara yang Tolak Pencaplokan Greenland

Jakarta, danantaranews.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang panggung perdagangan global dengan ancaman yang sangat berani! Dalam pernyataan terbarunya, sang petahana...

Related Articles

Dirjen Bea Cukai Dikaitkan ‘Kode 1’ Amplop Cokelat, Puskepi: Jangan Giring Opini Tanpa Bukti

Jakarta, Danantaranews.id – Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, meminta...

Puskepi Apresiasi Pertamina Gandeng Polisi Usut Viral Dugaan Penyimpangan BBM Subsidi di Kalbar

Jakarta, Danantaranews.id – Kasus dugaan penyimpangan distribusi BBM subsidi di Kalimantan Barat...

Awas Bodong! Mega Skandal Dugaan Korupsi KPR Bank BTN Karawang Ratusan Miliar Terbongkar, Cek Fakta Ngerinya!

Jakarta, Danantaranews.id – Kabar mengejutkan kembali mengguncang dunia perbankan dan sektor properti...

Babak Baru Diplomasi Dunia! Board of Peace Jadi Senjata Segar Indonesia Kawal Solusi Dua Negara untuk Palestina

Jakarta, danantaranews.id – Dinamika politik internasional baru saja memasuki babak yang sangat...