Jakarta, Danantaranews.id – Kinerja sektor properti pada kuartal I-2026 masih menghadapi tekanan. Sejumlah emiten developer besar mencatat penurunan laba bersih meski penjualan pra-pemasaran atau presales relatif masih sesuai ekspektasi pasar.
Tekanan tersebut terutama datang dari kenaikan biaya operasional, beban bunga, hingga tantangan makroekonomi yang belum sepenuhnya mereda.
Dalam laporan riset sektor properti kuartal I-2026, laba bersih agregat tiga emiten properti di luar BSDE tercatat sebesar Rp1,1 triliun atau turun 9% secara tahunan (year on year/yoy).
Hasil tersebut dinilai berada di bawah ekspektasi pasar setelah performa PWON dan SMRA melemah, sementara CTRA masih mampu mencatat hasil sesuai perkiraan analis.
PWON dan SMRA Jadi Beban Sektor Properti
PWON membukukan laba bersih sebesar Rp390 miliar atau tumbuh 29% yoy. Namun capaian tersebut masih berada di bawah konsensus pasar karena tingginya beban lain-lain yang menekan profitabilitas perusahaan.
Sementara itu, SMRA mencatat laba bersih Rp190 miliar atau turun 20% yoy.
Penurunan laba SMRA terjadi akibat kenaikan beban bunga yang diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa kuartal mendatang.
Di sisi lain, CTRA justru mampu menjaga performa lebih stabil dengan mencatat laba bersih Rp518 miliar, meski turun 22% yoy.
Kinerja CTRA dinilai masih sejalan dengan ekspektasi pasar dan mencapai 21% dari estimasi laba sepanjang tahun 2026.
Presales Turun, Tapi Masih Sesuai Target
Secara keseluruhan, penjualan pra-pemasaran sektor properti pada kuartal I-2026 mencapai Rp6,5 triliun atau turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih dianggap relatif sesuai target tahunan para pengembang.
SMRA menjadi emiten dengan pertumbuhan presales paling kuat setelah mencatat Rp1,2 triliun atau naik 37% yoy.
Kinerja tersebut ditopang proyek di Serpong, Bandung, dan Bogor.
Sementara itu, BSDE mencatat presales Rp2,5 triliun atau naik 5% yoy.
Peningkatan penjualan BSDE terbantu kontribusi sektor residensial seperti Nava Park, meski penjualan lahan joint venture mengalami perlambatan.
CTRA membukukan presales Rp2,4 triliun atau turun 23% yoy. Namun capaian tersebut masih dianggap wajar karena perusahaan sedang menyiapkan sejumlah peluncuran proyek premium.
Beberapa proyek unggulan yang menjadi andalan antara lain Citra Bukit Golf dan Citra Homes Halim.
Sementara itu, PWON mencatat presales Rp316 miliar atau turun 4% yoy.
Penjualan PWON diperkirakan akan mendapat dorongan pada kuartal berikutnya melalui peluncuran apartemen Eluna dan penyelesaian proyek Surabaya seperti Clayson dan Lancaster.
Rumah Premium Tetap Diburu Pembeli
Di tengah tekanan sektor properti, segmen rumah premium justru memperlihatkan daya tahan lebih kuat dibandingkan hunian kelas menengah.
Pada kuartal I-2026, penjualan rumah premium dengan harga di atas Rp2 miliar mencapai Rp4,8 triliun atau hanya turun 1% yoy.
Sebaliknya, segmen rumah dengan harga lebih rendah mencatat penurunan lebih dalam sebesar 13% yoy menjadi Rp1,7 triliun.
Kondisi ini menunjukkan pemulihan daya beli di segmen menengah dan menengah bawah masih berlangsung lambat.
Melihat tren tersebut, sejumlah developer mulai mengalihkan fokus ke proyek premium.
CTRA menyiapkan proyek Citra Bukit Golf Sentul, BSDE mengandalkan Nava Park II, sementara PWON menghadirkan proyek Eluna.
Insentif PPN Mulai Kehilangan Tenaga
Laporan tersebut juga menunjukkan penjualan terkait insentif PPN pada kuartal I-2026 mencapai Rp2,8 triliun atau tumbuh 6% yoy.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang BSDE yang mencatat lonjakan penjualan hingga 135% yoy melalui stok unit di BSD City, Grand Wisata, dan Kota Wisata.
Namun developer lain justru mengalami pelemahan penjualan terkait insentif PPN dengan penurunan berkisar 7% hingga 45% yoy.
PWON menjadi emiten dengan penurunan terdalam dalam kategori tersebut.
Saham Properti Murah, Tapi Risiko Masih Besar
Sepanjang tahun berjalan 2026, saham sektor properti tercatat turun 5% hingga 15%.
Meski valuasi saham kini dinilai semakin menarik dengan diskon mencapai 85% terhadap RNAV dan berada sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata jangka panjang, analis masih melihat adanya risiko yang membayangi sektor ini.
Kenaikan harga material bangunan dan ketidakpastian kondisi makroekonomi menjadi tantangan utama yang masih harus dihadapi developer dalam beberapa waktu ke depan. (*)
- analisis saham properti Indonesia terbaru
- BSDE
- CTRA
- dampak biaya material terhadap sektor properti
- Headline
- kinerja sektor properti kuartal I 2026
- pasar properti Indonesia
- penjualan rumah premium masih kuat
- penyebab laba emiten properti turun
- presales developer properti 2026
- presales properti
- proyek premium developer Indonesia
- PWON
- rumah premium
- saham emiten properti
- saham properti
- saham properti undervalued 2026
- sektor properti 2026
- SMRA
Leave a comment