Home Pasar Nilai Transaksi Harian BEI Anjlok 43,4 Persen, IHSG Terperosok di Bawah Level 8.000
Pasar

Nilai Transaksi Harian BEI Anjlok 43,4 Persen, IHSG Terperosok di Bawah Level 8.000

Share
IHSG Menguat Tipis 0,34 Persen, TOBA dan WIFI Jadi Jawara Hari Ini
Ilustrasi Pergerakan IHSG di BEI (Antara)
Share

Jakarta, danantaranews.id – Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan berat sepanjang pekan pertama Februari 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan penurunan tajam pada Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) yang merosot hingga 43,4 persen. Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi harian kini hanya berada di angka Rp24,75 triliun, berbanding jauh dari pekan sebelumnya yang mampu menembus Rp43,76 triliun per hari.

Kondisi lesu ini tidak hanya terlihat dari nilai transaksi, tetapi juga merembet ke volume perdagangan. Penurunan aktivitas pasar ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar di tengah volatilitas yang tinggi. Bagi Anda yang memiliki portofolio saham, memantau pergerakan data makro dan arus modal asing menjadi kunci penting untuk menentukan langkah investasi selanjutnya agar tetap aman dari guncangan pasar.

IHSG Melorot Tajam dan Kapitalisasi Pasar Ambles

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan kekuatannya dan harus parkir di zona merah. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/2), IHSG mendarat di level 7.935. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 4,73 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang masih bertengger gagah di level 8.329. Kejatuhan indeks ini secara otomatis menggerus nilai kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data resmi BEI periode 2-6 Februari 2026, kapitalisasi pasar saat ini menyusut menjadi Rp14.341 triliun. Artinya, kekayaan pasar modal Indonesia menguap sekitar 4,69 persen hanya dalam waktu lima hari perdagangan. “Rata-rata frekuensi transaksi harian selama sepekan terakhir hanya 2,72 juta kali atau mengalami penurunan signifikan hingga 28,2 persen,” tulis laporan bursa yang merujuk pada minimnya aktivitas jual-beli investor.

Arus Modal Asing: Net Buy Harian di Tengah Badai Net Sell

Meski kondisi pasar secara umum sedang tertekan, terdapat sedikit angin segar dari aktivitas investor mancanegara pada akhir pekan. Pada perdagangan Jumat (6/2), investor asing justru mencatatkan nilai beli bersih (net buy) sebesar Rp944,31 miliar di seluruh pasar. Langkah ini memberikan sedikit napas bagi IHSG agar tidak merosot lebih dalam ke jurang pelemahan.

Namun, jika kita melihat gambaran besar sepanjang tahun berjalan (year-to-date) 2026, situasinya tetap menantang. Investor asing masih mencatatkan total jual bersih (net foreign sell) mencapai Rp11,02 triliun. Angka yang cukup fantastis ini menunjukkan bahwa aliran modal keluar masih mendominasi pasar modal kita sejak awal tahun, yang menuntut kewaspadaan lebih bagi para pemegang saham ritel.

Volume Transaksi Turun 31,7 Persen dalam Sepekan

Lesunya bursa juga terlihat dari volume transaksi harian yang melorot 31,7 persen. Jika pekan lalu pasar masih mencatatkan rata-rata 63,3 miliar saham berpindah tangan setiap harinya, kini jumlah tersebut menyusut menjadi 43,2 miliar saham per hari. Frekuensi transaksi yang menurun drastis hingga di bawah 3 juta kali transaksi harian menandakan mayoritas investor memilih untuk wait and see.

Situasi pasar yang melandai ini sering kali menjadi momen bagi pengelola dana untuk mengatur ulang strategi mereka. Penting bagi Anda untuk tidak panik dan tetap fokus pada fundamental emiten yang memiliki rekam jejak keuangan solid. Penurunan nilai transaksi ini diharapkan bersifat sementara seiring dengan penyesuaian pasar terhadap kondisi ekonomi global maupun domestik.

Analisis Penutupan Pekan dan Proyeksi Pasar

Berakhirnya IHSG di level 7.935 memberikan sinyal bahwa area psikologis 8.000 kini menjadi resisten yang cukup kuat untuk ditembus kembali. Keberhasilan investor asing melakukan beli bersih di hari Jumat bisa menjadi pemacu awal untuk pembalikan arah (rebound) pada pekan depan, asalkan didukung oleh sentimen positif dari rilis data ekonomi terbaru.

Tetap waspada terhadap risiko koreksi lanjutan adalah langkah bijak. Memperhatikan pergerakan nilai tukar rupiah dan kebijakan suku bunga akan sangat membantu dalam memprediksi ke mana arah angin bursa saham kita bergerak. Ingat, dalam setiap penurunan tajam, selalu ada peluang bagi mereka yang mampu membaca data dengan jeli dan tetap tenang menghadapi fluktuasi. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

BSU 2026 Cair Rp900 Ribu! Ini Link Resmi Kemnaker dan Cara Cek Status via NIK

JAKARTA, danantaranews.id – Kabar gembira untuk para pekerja! Pemerintah kembali menyiapkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) untuk kuartal IV 2026. Program BSU 2026 ini...

Cetak Rekor Produksi Listrik Panas Bumi, Laba Bersih PGE Melonjak 15,48 Persen

JAKARTA, danantaranews.id – Emiten energi terbarukan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan laba bersih sebesar 79,6 juta dolar AS pada semester I...

Related Articles

Harga TBS Sawit di Riau Turun Lagi! Kini Jadi Rp3.733 per Kg

PEKANBARU, danantaranews.id – Kabar kurang menggembirakan menghampiri para petani kelapa sawit di...

Monster Gaming Telah Lahir: Intip Spesifikasi Gahar dan Harga iQOO 16 Berbaterai 8.400 mAh

JAKARTA, danantaranews.id – Dunia mobile gaming kembali diguncang oleh kehadiran monster performa...

Redam Lonjakan Harga Daging Ayam, Bapanas Kucurkan Subsidi Biaya Angkut Distribusi!

JAKARTA, danantaranews.id – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah intervensi strategis untuk...

Huawei Mate 90 Pro Resmi Meluncur! Cek Spesifikasinya yang Wah Banget dan Harganya

BEIJING, danantaranews.id – Pasar ponsel pintar flagship kembali bergejolak setelah Huawei secara...