Home Opini Hibah Indonesia untuk Fiji: Strategi Meningkatkan Pengaruh di Global South
Opini

Hibah Indonesia untuk Fiji: Strategi Meningkatkan Pengaruh di Global South

Share
Indonesia beri hibah Rp101,2 M ke Fiji, strategi diplomasi Prabowo untuk perkuat pengaruh di Global South dan jalin aliansi strategis
Satya Graha Habibilah, S.Sos
Share

Oleh: Satya Graha Habibilah, S.Sos.
Analis Hubungan Internasional dan Juru Bicara ISSF

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah diplomatik yang cukup berani. Pada April 2025, pemerintah Indonesia memberikan hibah senilai US$6 juta atau sekitar Rp101,2 miliar kepada pemerintah Fiji. Tujuan dari hibah ini tidak hanya untuk membantu Fiji mengurangi beban utang, tetapi juga membangun pusat pelatihan pertanian regional yang akan menjadi sumber penguatan kapasitas pangan negara-negara Pasifik.

Tentu saja, keputusan ini memunculkan beragam reaksi. Sebagian publik bertanya: mengapa Indonesia harus memberikan dana hibah kepada negara lain, di tengah berbagai kebutuhan dalam negeri?

Untuk menjawab ini, kita perlu melihat dari sudut pandang yang lebih luas: diplomasi, kepentingan nasional, pengaruh internasional, dan strategi upper hand dalam politik global.

Indonesia secara historis konsisten memperkuat solidaritas antarnegara berkembang melalui kerangka kerja sama Selatan-Selatan. Sebagai negara dengan posisi strategis di Asia Tenggara dan anggota penting G20, Indonesia berkepentingan memperluas pengaruhnya di kawasan Pasifik.

Negara-negara kecil di Pasifik seperti Fiji memiliki bobot penting dalam organisasi multilateral seperti PBB, WTO, hingga International Seabed Authority, di mana suara mereka berkontribusi dalam pembentukan konsensus global.

Dengan memberikan hibah ini, Indonesia mempererat persahabatan dan memperluas jaringan dukungan internasional di forum-forum global yang semakin kompetitif, khususnya di tengah persaingan pengaruh antara Tiongkok, Australia, dan Amerika Serikat di kawasan Pasifik.

Secara langsung, hubungan yang erat dengan Fiji dan negara-negara Pasifik akan memperluas peluang kerja sama ekonomi dan politik bagi Indonesia. Indonesia juga menunjukkan kepemimpinan sebagai negara yang tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu menjadi provider of aid—sebuah lompatan penting dalam citra diplomatik.

Apalagi, sejak 2019 hingga 2024, Indonesia telah menyalurkan hibah senilai Rp113,4 miliar ke Fiji untuk sektor pendidikan dan kesehatan, termasuk dalam respons terhadap pandemi COVID-19. Hibah terbaru ini melengkapi upaya jangka panjang Indonesia untuk membangun kepercayaan dan goodwill di kawasan.

Dalam diplomasi internasional, memberikan hibah bukanlah sekadar kebaikan altruistik—ini adalah bentuk upper hand diplomacy. Dengan menjadi mitra pembangunan yang dapat diandalkan, Indonesia bisa mendapatkan posisi tawar yang lebih kuat dalam isu-isu strategis seperti:

  • Dukungan Fiji di berbagai voting PBB terkait isu sensitif.
  • Kerja sama maritim di Samudera Pasifik Selatan.
  • Peluang kerja sama ekonomi biru dan ekowisata.

Apalagi, saat ini kawasan Pasifik menjadi arena baru pertarungan pengaruh global. Australia, Tiongkok, bahkan Amerika Serikat berlomba menawarkan paket bantuan untuk mendapatkan pengaruh. Indonesia, dengan pendekatan diplomasi damai dan berbasis solidaritas, memiliki peluang besar untuk memainkan peran sebagai the bridge of trust antara negara besar dan negara kecil.

Kebijakan hibah kepada Fiji bukanlah pengeluaran sia-sia. Ini adalah investasi diplomasi jangka panjang untuk memperkuat pengaruh Indonesia di Global South, memperluas ruang gerak dalam pergaulan internasional, dan mempertegas komitmen Indonesia untuk tampil sebagai negara yang aktif membentuk dunia yang lebih adil.

Dalam dunia hubungan internasional, kekuatan tidak hanya diukur dari seberapa besar ekonomi atau militermu, tetapi juga dari seberapa banyak teman yang rela berdiri bersamamu saat dunia bergejolak. Presiden Prabowo dan Kementerian Luar Negeri tampaknya memahami ini dengan sangat baik. (Satya Graha Habibilah, S.Sos)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Cetak Rekor Produksi Listrik Panas Bumi, Laba Bersih PGE Melonjak 15,48 Persen

JAKARTA, danantaranews.id – Emiten energi terbarukan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan laba bersih sebesar 79,6 juta dolar AS pada semester I...

Data Warga Bocor Lagi? Ini Penjelasan Resmi BSSN

JAKARTA, danantaranews.id – Isu kebocoran data pribadi kembali menyita perhatian publik di ruang digital. Namun, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dengan cepat...

Related Articles

Jangan Sampai Skandal Cibinong Menenggelamkan Kasus-kasus Lebih Besar

Oleh  Edy Mulyadi, Wartawan Senior Temuan Ombudsman di lingkungan asimilasi Lapas Kelas...

Dukungan lintas kalangan menguat, Gus Gudfan sosok tepat untuk Sekjen PBNU

Oleh: Achmad Baha’ur Rifqi Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara     Pasca-Muktamar...

Subsidi BBM Sudah Saatnya Pemerintah Harus Berani Berbenah

Oleh: Sofyano Zakaria Pengamat Kebijakan Energi     Wacana mengoreksi harga BBM...

Menimbang Ulang Subsidi Transportasi: Saatnya Menggeser Fokus dari Motor ke Bus Listrik

Oleh Djoko Setijowarno Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat...