danantaranews.id – Mentari pagi baru saja merambat naik ketika derap langkah rombongan Komunitas Safari Jumat Tebet-Bekasi mulai membelah jalanan.
Hari itu, Jumat, 18 September 2026, destinasi ibadah ditujukan ke jantung Kota Wali, yaitu Masjid Raya At Taqwa Cirebon. Sebuah rumah ibadah bersejarah yang telah berdiri kokoh melintasi zaman sejak dibangun pada tahun 1918 silam.
Perjalanan dimulai tepat pukul 06.30 WIB dari tempat kumpul Divisi Bekasi di Jatiasih dengan kekuatan 8 personel, tiga di antaranya adalah para istri.

Tak berselang lama, Divisi Tebet menyusul memboyong 7 personel, termasuk dua pendamping istri. Berbalut busana seragam berbahan denim, total 15 anggota rombongan bersiap menempuh perjalanan spiritual lintas kota.
Titik temu disepakati di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek pada pukul 07.15 WIB, sebelum akhirnya rombongan meluncur bersama menembus jalan bebas hambatan.
Dinamika Jalur Cipali dan Sambutan Hangat Kota Cirebon
Perjalanan menyusuri Tol Cikampek-Palimanan menyajikan cerita tersendiri. Pertukaran pesan singkat sempat terjadi saat menentukan titik rehat.
“Oke kita ngopi di KM 102,” kata Dodi Mahpudi, Ketua Tim Bekasi, yang kemudian disetujui oleh Asisten Ketua Umum, Pak Wid, “Oke.”
Sekitar 45 menit kemudian rombongan sampai di Rest Area KM 102 Tol Cipali. Sayangnya, area kedai kopi saat itu terbilang padat sehingga anggota tak bisa duduk melingkar dalam satu meja.
“Kurang seru ngopinya, jadi gak bisa ngobrol,” celoteh salah satu anggota rombongan Divisi Bekasi saat kembali ke dalam mobil.

Laju kendaraan pun dilanjutkan dengan melintasi beberapa hambatan di ruas Cipali, mulai dari titik perbaikan jalan hingga insiden dua truk terguling di sisi kanan jalur.
Namun, perjalanan terus mengalir hingga kendaraan melintasi gerbang Tol Plumbon. Tiba di Kota Cirebon, gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Kota Cirebon’ menyambut hangat kedatangan rombongan.
Lokasi Masjid Raya At Taqwa yang sangat strategis, yakni berdampingan dengan Alun-Alun Kejaksan dan Stasiun Kereta Api Kejaksan, membuat pesona bangunan ini langsung memikat mata begitu kendaraan mendekati kawasan pusat kota.
Jejak Sejarah Tajug Agung 1918 dan Pesona Arsitektur
Suasana religius terasa kental tatkala melangkah memasuki pelataran masjid.
Karpet merah tergelar di pintu masuk masjid. Sementara payung hidrolik ala Masjid Nabawi membuat teduh jalan masuk.
Gerbang utamanya yang berukuran lebar 3 meter tampil berkilau dalam balutan warna keemasan dengan hiasan dua kalimat syahadat dari bahan glass reinforced cement (GRC) dan batu granit.
Seluruh lantai, dinding, hingga tiang-tiang penopang dalam masjid terbalut batuan granit kokoh yang berpadu ornamen arsitektur Islam, sementara menara utamanya berdiri menjulang gagah setinggi 65 meter.

Bangunan ini bukan sekadar tempat sujud, melainkan saksi bisu perjalanan dakwah Islam di Cirebon sejak zaman penjajahan Belanda.
Diinisiasi oleh para tokoh Islam lokal pada tahun 1918, bangunan ini awalnya dinamai Tajug Agung yang berarti Masjid Agung dalam bahasa Sunda dan berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para ulama.
Pascakemerdekaan, peremajaan bangunan dilakukan bertahap pada tahun 1951 hingga 1963 di bawah prakarsa R.M. Arhatha, Kepala Kantor Urusan Agama Cirebon saat itu.
Nama Tajug Agung kemudian diubah menjadi Masjid Raya At Taqwa agar tidak bersinggungan dengan nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa di kawasan Keraton Kasepuhan.
Secara visual, Masjid Raya At Taqwa menyajikan kemewahan arsitektur yang mengawinkan gaya tradisional Jawa dan sentuhan modern Islam. Atapnya mengusung gaya limasan khas Jawa yang dipadu fasad megah berhias kaligrafi emas.
Kekhidmatan Salat Jumat dan Kuliner Penutup
Gema azan menandai dimulainya ibadah salat Jumat pada pukul 11.45 WIB. Ribuan jemaah melimpah hingga ke pelataran, menyimak khutbah yang mengajak umat untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Usai salat, suasana keakraban terpancar saat pengurus masjid membagikan sajian Jumat Berkah berupa roti.
Ratusan siswa SD Kebonbaru berseragam Pramuka tampak tertib mengantre bersama warga dan anggota rombongan Safari Jumat.
Perjalanan spiritual di Kota Udang ini ditutup dengan berwisata kuliner di Nasi Jamblang Ibu Nur yang legendaris dan berlokasi tak jauh dari area masjid.
Berbekal perut kenyang dan oleh-oleh Mangga Gedong Gincu khas Cirebon, rombongan bertolak pulang dan mendarat kembali di base camp masing-masing sekitar pukul 17.00 WIB.
Leave a comment