Indosat Resmi Tuntaskan Divestasi Mayoritas Saham IFT
Jakarta, danantaranews.id – PT Indosat Tbk (ISAT) resmi menyelesaikan transaksi divestasi mayoritas kepemilikan saham di PT Infra Fiber Teknologi (IFT) senilai Rp11,71 triliun. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi bisnis infrastruktur serat optik yang telah disiapkan perusahaan sejak akhir 2025.
Transaksi tersebut telah berlaku efektif secara hukum pada 30 Juni 2026. Dengan rampungnya proses itu, PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT) kini menjadi pemegang saham mayoritas di IFT.
Indosat dan Lintasarta Lepas 84,9 Persen Saham
Dalam transaksi tersebut, Indosat bersama anak usahanya, PT Aplikanusa Lintasarta, menjual secara kumulatif 11.707.828 saham di IFT. Jumlah tersebut setara dengan 84,9% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor perusahaan.
Seluruh saham tersebut beralih kepada PT Nusantara Fiber Teknologi dengan nilai transaksi mencapai Rp11,71 triliun.
Transaksi Inbreng Ubah Struktur Kepemilikan
Selain melakukan penjualan saham, Indosat dan Lintasarta juga melaksanakan transaksi inbreng atas 2.083.223 saham atau setara 15,1% kepemilikan di IFT.
Melalui skema tersebut, Indosat memperoleh 1.991.439 saham NFT atau setara 49,1% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan tersebut.
Sementara itu, PT Aplikanusa Lintasarta menerima 32.132 saham NFT. Jumlah tersebut setara dengan 0,8% dari modal ditempatkan dan disetor NFT.
Perjanjian Pemegang Saham Berlaku Setelah Transaksi Selesai
Indosat juga mengungkapkan bahwa transaksi divestasi tersebut diikuti dengan penandatanganan Perjanjian Pemegang Saham.
Perjanjian tersebut melibatkan Indosat, Lintasarta, PT Nusantara Fiber Teknologi, serta PT Ainfrastruktur Indonesia Raya.
Keempat pihak menandatangani perjanjian itu pada 6 Mei 2026. Kesepakatan tersebut mulai berlaku efektif setelah seluruh proses jual beli saham selesai.
Divestasi Jadi Kelanjutan Sejumlah Kesepakatan Sebelumnya
Perseroan menjelaskan bahwa divestasi tersebut merupakan tindak lanjut dari sejumlah perjanjian yang telah diumumkan sebelumnya.
Salah satunya ialah Perjanjian Investasi yang ditandatangani pada 23 Desember 2025. Selanjutnya, para pihak melakukan perubahan terhadap perjanjian tersebut pada 6 Mei 2026.
Pada tanggal yang sama, seluruh pihak juga menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat sebagai bagian dari penyelesaian transaksi.
NFT Menjadi Pemegang Saham Mayoritas IFT
Setelah seluruh transaksi selesai, Indosat masih mempertahankan kepemilikan satu lembar saham di PT Infra Fiber Teknologi.
Sementara itu, PT Nusantara Fiber Teknologi kini menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sebanyak 13.791.051 saham di IFT.
Indosat Tetap Memiliki Kepemilikan Efektif Hampir 50 Persen
Meski melepas mayoritas kepemilikan langsung, Indosat tetap mempertahankan posisi strategis di bisnis serat optik.
Perseroan masih memiliki kepemilikan efektif, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebesar 49,68% di IFT melalui struktur kepemilikan yang baru.
Dengan struktur tersebut, Indosat tetap memiliki eksposur terhadap pengembangan bisnis infrastruktur fiber optik yang dijalankan IFT.
Kolaborasi Fiber Optik Libatkan Arsari Group dan Northstar
Sebelumnya, Indosat bersama Arsari Group dan Northstar telah membentuk perusahaan patungan yang bergerak di bidang penyediaan koneksi fiber optik.
Melalui kerja sama tersebut, Indosat mengalihkan aset serat optiknya ke perusahaan baru dengan valuasi mencapai Rp14,6 triliun.
Langkah tersebut membuat Indosat memonetisasi aset fiber menjadi kepemilikan 45% saham di perusahaan patungan tersebut.
Di sisi lain, Arsari Group juga menguasai 45% saham. Sementara itu, sisa kepemilikan berada di tangan mitra lain dalam struktur konsorsium.
Vikram Sinha Sebut Fiber Jadi Fondasi Infrastruktur Digital
President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menilai kolaborasi tersebut memiliki tujuan yang lebih luas dibanding sekadar membangun bisnis infrastruktur.
Menurutnya, kemitraan tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing Indonesia melalui pengembangan infrastruktur digital.
“Semua riset, mulai dari Bank Dunia, McKinsey, hingga laporan internal Indosat, menunjukkan bahwa komponen terpenting dari infrastruktur digital adalah fiber,” kata Vikram.
Ia menilai jaringan fiber optik menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem digital yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Indosat Bidik Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Vikram menjelaskan kolaborasi strategis dengan Arsari dipadukan dengan kemampuan belanja, kebijakan, dan platform yang dimiliki Indosat.
Menurutnya, kombinasi tersebut diharapkan dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8%.
“Hari ini, partnership strategis ini dengan Ansari, dan terutamanya Indosat, dan kemampuan platform yang kita bangunkan, ini akan membantu kita bergerak ke arah pertumbuhan 8% GDP,” ujar Vikram.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan infrastruktur fiber optik dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia di masa mendatang. (*)
Leave a comment