Jakarta, danantaranews.id – Kabar buruk kembali menghantam pasar keuangan tanah air. Nilai tukar Rupiah terpaksa bertekuk lutut di hadapan kedigdayaan Dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, 24 Februari 2026. Mata uang Garuda tidak berdaya menahan gempuran sentimen eksternal yang kian mencekam, terutama setelah tensi geopolitik antara Washington dan Teheran mendidih ke titik didih tertinggi.
Investor saat ini sedang berada dalam mode waspada tingkat tinggi atau risk-off. Mereka berbondong-bondong memburu Dolar AS sebagai aset aman (safe haven), meninggalkan mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Jika kamu punya rencana transaksi valas atau investasi dalam waktu dekat, sebaiknya simak baik-baik dinamika yang sedang terjadi di pasar global saat ini.
Geopolitik Memanas: Bayang-bayang Serangan Militer ke Iran
Rupiah harus rela parkir di level Rp16.829 per Dolar AS, melemah 27 poin atau sekitar 0,16% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi bukan tanpa alasan. Fokus dunia saat ini tertuju pada Jenewa, tempat putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran akan berlangsung Kamis mendatang.
Namun, harapan akan perdamaian tampak sangat tipis. Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan total program nuklirnya, sebuah permintaan yang ditolak mentah-mentah oleh Teheran. Situasi kian genting setelah Departemen Luar Negeri AS menarik personel non-esensial dari Beirut karena kekhawatiran konflik militer yang nyata.
Bahkan, kabar mengejutkan dari laporan The New York Times menyebutkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan serangan terarah terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump pun sudah mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial bahwa akan menjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Ancaman Perang Dagang Trump: Tarif Impor Naik Jadi 15%
Selain risiko perang fisik, pasar juga digoyang oleh ancaman perang dagang. Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa kebijakan agresif Donald Trump turut memperkasa indeks Dolar AS. Trump tidak main-main dengan rencananya menaikkan tarif impor dari semula 10% menjadi 15% untuk semua negara mitra dagang.
“Trump juga mengatakan akan menaikkan tarif sementara dari 10% menjadi 15% untuk impor AS dari semua negara, yang merupakan tingkat maksimum yang diizinkan berdasarkan hukum,” ungkap Ibrahim dalam risetnya sore ini. Kebijakan ini tentu memicu kekhawatiran akan perlambatan perdagangan global yang bisa menekan ekonomi domestik lebih dalam.
Kabar dari Dalam Negeri: Strategi APBN 2026 Lebih Terukur
Di tengah badai global, bagaimana kondisi keuangan internal kita? Kabar baiknya, pemerintah tampak lebih disiplin dalam mengelola pembiayaan fiskal. Realisasi pembiayaan APBN 2026 hingga Januari tercatat mencapai Rp105,06 triliun atau sekitar 15,2% dari target.
Angka ini jauh lebih rendah jika kita bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 29,6%. Ini menunjukkan pemerintah sedang menerapkan strategi “rem darurat” yang lebih hati-hati di tengah fluktuasi pasar keuangan dunia. Pemerintah tercatat menarik utang baru sebesar Rp127,3 triliun pada bulan pertama tahun ini, tetap dalam koridor aman dan disiplin fiskal.
“Perkembangan realisasi pembiayaan ini menunjukkan strategi yang lebih terukur, disesuaikan dengan kebutuhan kas pemerintah dan mempertimbangkan dinamika pasar keuangan,” tutur Ibrahim menjelaskan langkah pemerintah menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Rupiah Masih Akan Tertekan?
Melihat eskalasi yang terjadi di Timur Tengah dan kebijakan tarif AS, posisi Rupiah diprediksi masih akan menghadapi jalan terjal. Jika kesepakatan nuklir hari Kamis nanti buntu, jangan kaget jika tekanan terhadap nilai tukar akan semakin hebat. Saat ini, kunci utama stabilitas Rupiah ada pada kemampuan pemerintah menjaga cadangan devisa dan ketenangan pasar di tengah hiruk-pikuk politik dunia.
Jadi, buat kamu yang memiliki kebutuhan Dolar atau sedang memantau harga barang impor, tetaplah waspada dan jangan lengah dengan pergerakan kurs yang sangat dinamis belakangan ini. (*)
Leave a comment