Jakarta, danantaranews.id – Dolar AS akhirnya bangkit setelah sempat tertekan selama beberapa pekan terakhir. Data ekonomi terbaru memicu optimisme pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) bakal memangkas suku bunga lebih cepat, sehingga membantu mengerek nilai tukar greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Seperti dilansir Reuters, Rabu (2/7/2025) waktu New York atau Kamis (3/7/2025) pagi WIB, dolar sempat goyah di awal perdagangan. Namun, laporan ketenagakerjaan swasta Amerika Serikat versi ADP tiba-tiba memutar arah pasar. Data itu menunjukkan jumlah tenaga kerja di sektor swasta turun untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Hal inilah yang memicu harapan pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed, mungkin secepat-cepatnya pada bulan September.
“Jika negara-negara tidak mencapai kesepakatan dagang, tekanan justru akan berbalik ke Amerika, dan itu negatif bagi dolar,” kata Steve Englander, analis Standard Chartered. “Tapi jika negara-negara mulai menyepakati, justru negara yang tertinggal yang akan terkena dampaknya. Ini bisa menjadi sinyal positif bagi risiko (risk-on).”
The Fed Berpotensi Pangkas Suku Bunga
Pasar keuangan kini menatap rilis data ketenagakerjaan Amerika untuk periode Juni yang akan keluar Kamis ini. Angka pengangguran dan pertumbuhan lapangan kerja akan menjadi acuan pasar memprediksi langkah The Fed ke depan.
Selain itu, RUU pemotongan pajak dan belanja besar-besaran yang diusung Presiden Donald Trump juga disorot pasar. RUU ini lolos di Senat dengan margin tipis dan diperkirakan bakal menambah beban utang Amerika hingga USD3,3 triliun. Situasi ini turut memengaruhi pergerakan dolar AS, meskipun belum sepenuhnya menghapus optimisme pasar akan pemangkasan suku bunga.
“Dolar menguat terhadap mata uang G10, dan ini bukan kebetulan karena terjadi kenaikan hampir 20 basis poin pada suku bunga AS,” kata Marc Chandler, Chief Market Strategist di Bannockburn Global Forex LLC. “Saat imbal hasil obligasi AS naik, dolar biasanya ikut terdongkrak.”
Poundsterling Tertekan, Pasar Inggris Bergejolak
Sementara itu, kabar kurang sedap datang dari Inggris. Poundsterling anjlok 0,79 persen menjadi USD1,3634 terhadap dolar. Level ini merupakan yang terendah dalam satu minggu terakhir. Aksi jual obligasi pemerintah Inggris menjadi penyebab utama, terutama setelah pemerintah mengumumkan pemotongan tunjangan yang memicu gejolak politik di dalam negeri.
“Bukan hanya pound Inggris yang melemah tajam, tetapi obligasi pemerintah juga mengalami banyak tekanan. Saya pikir ini hanya krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Partai Buruh,” tambah Chandler.
Euro Juga Ikut Loyo, Meski Inflasi Mulai Stabil
Tak hanya poundsterling, euro juga melemah tipis 0,08 persen ke level USD1,1797 terhadap dolar. Meski begitu, euro masih mampu naik 0,9 persen terhadap pound. Data inflasi zona euro memang mencatat kenaikan tipis ke level target Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 2 persen. Namun, pelaku pasar kini lebih fokus pada potensi volatilitas suku bunga di kawasan Eropa ke depannya.
Indeks Dolar Kembali Menguat
Di tengah dinamika pasar global, Indeks Dolar (DXY), yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama termasuk euro dan yen, naik 0,154 persen menjadi 96,786. Lonjakan ini berhasil menghentikan sembilan sesi penurunan berturut-turut. Meski begitu, indeks dolar masih berada di posisi rendah multi-tahun setelah mencatat semester pertama terburuk sejak dekade 1970-an.
Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga The Fed, juga naik 1,2 basis poin ke level 3,789 persen. Kenaikan ini menjadi salah satu faktor yang ikut menopang penguatan dolar AS.
Dolar Kanada dan Yuan Cina Bergerak Tipis
Di sisi lain, dolar Kanada justru mencatat penguatan 0,35 persen terhadap greenback menjadi 1,36 per dolar. Sementara dolar AS naik sedikit 0,03 persen ke level 7,161 terhadap yuan Tiongkok di pasar offshore.
Kondisi pasar forex saat ini memang sedang diliputi banyak sentimen campuran. Mulai dari data ekonomi AS, gejolak politik Inggris, hingga perkembangan hubungan dagang AS dengan negara lain seperti Vietnam.
Pelaku pasar kini menanti rilis laporan tenaga kerja AS dan bagaimana The Fed akan merespons data-data terbaru tersebut. Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga pada September mendatang, bukan tak mungkin dolar AS kembali mengalami gejolak signifikan. (*)
Leave a comment