Home Lifestyle Napak Tilas 4 Abad Sejarah: Perjalanan Spiritual Majelis Safari Jumat Tebet-Bekasi ke Masjid Agung Banten
Lifestyle

Napak Tilas 4 Abad Sejarah: Perjalanan Spiritual Majelis Safari Jumat Tebet-Bekasi ke Masjid Agung Banten

Share
Salat jumat di Masjid Agung Banten (GW)
Share

danantaranews.id – Awal pekan yang penuh dinamika mewarnai langkah Ketua Umum Safari Jumat Tebet-Bekasi, Andy R, tatkala ia harus mengubah rencana destinasi ibadah Jumat pada 9 Oktober 2026.

Masjid Al-Mumtadz di Pangalengan, Bandung, yang mulanya masuk dalam agenda utama, harus digantikan dengan destinasi yang menyimpan napas sejarah lebih panjang: Masjid Agung Banten, sebuah mahakarya spiritual berusia lebih dari empat abad yang syarat akan nilai perjuangan bangsa dan syiar Islam.

Arahan strategis tersebut disampaikan langsung melalui Ketua Tim Divisi Bekasi, Dodi M. Sebagai anggota yang menjunjung tinggi loyalitas dan kekompakan, instruksi Sang Ketua Umum tentu disambut antusias.

Kamis (8/10), Katim Bekasi langsung melakukan absensi kilat di WhatsApp Group untuk mendata personel dari kedua divisi, Tebet dan Bekasi, yang siap ambil bagian.

“Dari Tebet siapa saja yang ikut?” begitu pesan WhatsApp Group yang disebar Katim Bekasi, Dodi M.

Masjid Agung Banten (GW)

Menanggapi hal tersebut, salah satu punggawa Divisi Tebet sekaligus ahli konstruksi jalan dan gedung di sebuah BUMN, Pak Yusuf S, sigap membalas dengan menyebutkan deretan nama.

“Pak Andy, Pak Wied, Pak Yusuf, Pak Eddy, Pak Benny,” tulisnya.

Menarik untuk diulik, ada dua dari lima nama asal Tebet yang identitasnya kerap mengundang senyum. Pertama adalah Pak Eddy, seorang alumnus perusahaan minyak swasta.
Kedua adalah Pak ‘Kewalahan’ Benny, figur kocak lulusan perbankan swasta nasional yang cukup ternama.

Sementara itu, Divisi Bekasi menurunkan 6 anggota terbaiknya yang siap meluncur. Mereka adalah Katim Dodi M, Wakatim Pandji N, Ustadz Adi, Wahyu ‘Gus Temanggung’, Mr Supri selaku ‘penguasa’ sebagian kawasan Deltamas, serta Gw Handono yang didaulat sebagai anggota paling junior.

Secara keseluruhan, sebanyak 11 anggota, termasuk Pak Ketum dan Katim Bekasi, memastikan keikutsertaannya dalam perjalanan kali ini tanpa didampingi para istri.

“Kita berangkat jam 07.00 WIB dan kumpul di Rest Area KM 43 Tol Jakarta Merak,” tulis Katim Bekasi, yang bertindak sebagai pengatur strategi perjalanan.

Dress Code Putih Berhias Udeng

Ada pemandangan yang tak biasa dan begitu ikonik dari rombongan Safari Jumat Tebet-Bekasi kali ini. Seluruh anggota kompak mengenakan dress code serba putih. Uniknya lagi, mereka sepakat untuk tidak mengenakan peci hitam konvensional, melainkan memakai topi atau penutup kepala tradisional khas daerah, yakni udeng.

Majelis Safari Jumat Tebet Bekasi (PW)

Pukul 06.47 WIB, Katim Divisi Bekasi sudah woro-woro di base camp Jatiasih, yang bertempat di Workshop Arlet Laundry, Jatikramat. Lima anggota terpantau sudah siaga, menyisakan satu nama yang belum tampak batang hidungnya: Wahyu ‘Gus Temanggung’.

Tak mau membuang waktu, Katim menginstruksikan anggotanya untuk segera menghubungi sang tokoh yang bersangkutan.

“Tak ada jawaban. Mungkin lagi di jalan,” cetus Mr Supri.

Prediksi itu terbukti benar. Sekira 10 menit kemudian, Gus Temanggung tiba di base camp dengan selamat.
Dengan wajah bantal yang masih kental terlihat, serta rambut yang belum tersisir rapi, Wahyu ‘Gus Temanggung’ langsung memarkirkan kendaraan. Tanpa basa basi (karena sudah ditunggu), dia langsung masuk mobil.

Dan tanpa buang waktu, rombongan langsung bergerak menuju titik kumpul di Rest Area KM 42 Tol Jakarta-Merak untuk melaksanakan ritual wajib: ngopi pagi. Langkah serupa juga dilakukan Divisi Tebet yang meluncur dari base camp utama di kediaman Ketum, Andy R.

Satu jam berselang, Divisi Bekasi tiba lebih dulu di lokasi peristirahatan. Namun, di sinilah drama kecil terjadi akibat misscommunication penentuan lokasi ngopi.

Mengingat ada dua titik point coffee di area KM 42, satu di dalam minimarket dan satu lagi berupa gerai tersendiri yang dikenal sebagai Point Coffee Gedhe, kebingungan pun tak terelakkan.

“Point penuh. Jadi gak enak buat kumpul. Di FM saja ya, di belakang Point,” ucap Katim Bekasi lewat sambungan telepon kepada Pak Eddy.

Ritual ngopi pagi sebelum Salat Jumat (GW)

Tak lama berselang, Divisi Tebet tiba dan langsung meluncur ke gerai FM. Minuman hangat seperti Americano, Chocolate, dan Caffè Latte beserta aneka camilan lezat langsung tersaji. Di tengah perbincangan hangat, Pak Eddy menunjuk ke arah gerai Point Coffee di sebelah FM yang tampak lengang.

“Itu kosong,” ujarnya.
“Wah, saya baru tahu kalau ada point baru di sini,” jawab Katim Bekasi keheranan.
“Tadi yang saya maksud Point Coffee yang di belakang itu ya yang ini,” timpal Pak Eddy.
“Saya pikir point coffee yang lokasi duduknya di belakang minimarket itu,” balas Dodi sembari menunjuk area yang dimaksud, yakni gerai di bagian belakang minimarket.

Setelah kesalahpahaman kecil itu cair, rombongan melanjutkan agenda ngopi di Point Coffee Gedhe yang berdampingan dengan FM. Obrolan santai pun mengalir renyah sambil menyeruput minuman hangat, mulai dari dinamika pekerjaan, urusan bisnis, kuliner, hingga perbincangan seputar “ritual di kasur saat malam Jumat” yang sukses memancing senyum ceria seluruh anggota majelis.

Napak Tilas Menuju Masjid Agung Banten

Pukul 09.55 WIB, ritual ngopi pagi resmi usai. Rombongan tancap gas melanjutkan perjalanan menuju destinasi utama: Masjid Agung Banten Sultan Maulana.

Tak butuh waktu lama, pada pukul 11.03 WIB, tim Safari Jumat Tebet-Bekasi tiba di lokasi. Rombongan diarahkan untuk memarkirkan kendaraan di area dekat kompleks pemakaman raja-raja Banten.
Jejak-jejak sejarah langsung menyambut pandangan mata, mulai dari sisa-sisa benteng pertahanan hingga menara masjid yang menjulang tinggi sebagai lambang pengawasan masa lampau.

Menyelami Sejarah dan Arsitektur Megah

Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1552–1570), masjid yang terletak di Kecamatan Kasemen, kawasan Banten Lama (sekitar 10 km arah utara Kota Serang) ini berstatus sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Arsitektur Masjid Agung Banten menyimpan keunikan tersendiri karena memadukan unsur budaya Jawa Kuno dan Tiongkok. Hal ini tampak jelas pada bagian serambi yang lapang serta atap masjid yang bertingkat lima dengan bentuk menyerupai tumpeng.

Menara Masjid Agung Banten (gw)

Terdapat dua versi cerita rakyat mengenai arsitek di balik pembangunan megah ini. Versi pertama menyebutkan bahwa masjid dibangun oleh arsitek keturunan Tiongkok bernama Tjek Ban Tjut, sementara versi kedua meyakini bahwa perancangnya adalah Raden Sepat dari Demak.

Bagian serambi utama masjid ditopang oleh 24 tiang kokoh. Di sisi kiri serambi terdapat kompleks makam sultan dan keluarga kerajaan, termasuk makam Pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa.

Sementara itu, ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan tiang penyangga utama yang disebut saka guru, berdiri di atas umpak batu andesit bermotif buah labu. Di bagian depan, berdiri sebuah mimbar kayu berundak marmer tempat khatib menyampaikan risalah Islam di masa silam, dikelilingi oleh lima buah pintu yang menyimbolkan rukun Islam.

Menara Bersejarah dan Kompleks Tiyamah

Salah satu ikon paling mencolok dari Masjid Banten adalah menara setinggi 24 meter berdiameter 10 meter yang terletak di sisi timur dan dipisahkan oleh kolam.

Dibangun oleh arsitek Belanda, Hendrik Lucaszoon Cardeel, pada tahun 1629 atas perintah Sultan Haji, menara ini memiliki fungsi multi-peran: mulai dari tempat bilal mengumandangkan adzan hingga pos pengawasan dan penyimpanan senjata saat masa peperangan, mengingat posisinya yang strategis karena laut hanya berjarak 1,5 km dari kompleks masjid.

Di sisi selatan masjid, berdiri bangunan Tiyamah bergaya Eropa kuno yang dahulunya difungsikan sebagai tempat musyawarah dan diskusi keagamaan. Hingga kini, Masjid Agung Banten senantiasa menjadi pusat wisata religi dan ziarah favorit di Kota Serang, menarik ribuan peziarah setiap harinya untuk berdoa dan mengenang jasa para leluhur.

Bersyukur Atas Semua Nikmat

Pesan Jumat yang merasuk dalam sanubari rombongan kali ini adalah pengingat bagi kaum Muslimin untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan—karena tiada satu pun selain-Nya yang mampu menghitung limpahan karunia tersebut.

Usai santap siang di Saung Edi (SP)

Usai menunaikan shalat Jumat berjemaah, rombongan Safari Jumat Tebet-Bekasi menutup rangkaian kegiatan spiritual dengan santap siang bersama di Saung Edi.

Sebelum meninggalkan kawasan Banten Lama, tak lupa sebagian anggota menyempatkan diri memborong buah tangan khas setempat, yakni telur asin gurih dan buah sawo manis untuk dibawa pulang ke keluarga tercinta di Jakarta dan Bekasi.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Redam Lonjakan Harga Daging Ayam, Bapanas Kucurkan Subsidi Biaya Angkut Distribusi!

JAKARTA, danantaranews.id – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah intervensi strategis untuk meredam fluktuasi harga daging ayam ras di tingkat konsumen. Bapanas resmi...

Pelindo Jayapura Meledak! Arus Barang Tembus 132.618 Ton

Jakarta, danantaranews.id – Arus barang nonpetikemas di Pelabuhan Jayapura mencatat lonjakan tajam sepanjang Januari hingga Agustus 2026. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4...

Related Articles

Realme P4s Lite:HP Rp3 Jutaan dengan Baterai 7.000 mAh

JAKARTA, danantaranews.id – Realme kembali memperluas lini smartphone entry-level melalui Realme P4s...

Kehangatan Safari Jumat Tebet-Bekasi di Masjid Al-Barkah Cileungsi: Dari Gelak Tawa Kedai Kopi Hingga Syahdunya Beribadah

danantaranews.id – Keputusan akhir selalu membawa cerita unik. Hari itu, Jumat, 2...

Jeep Wrangler Rubicon Goldilocks Menggoda, Warna Emasnya Bikin Pangling

Jakareta, danantaranews.id – Jeep Indonesia kembali menghadirkan pilihan baru untuk pasar otomotif...

Lepas E4 EV dan L8 PHEV Masuk Jakarta, Diler Fatmawati Resmi Dibuka

Jakarta, danantaranews.id – Lepas Indonesia mempercepat ekspansi jaringan di Jakarta Selatan dengan...