Pemulihan pascabencana Aceh Tamiang berlangsung hanya empat bulan. Produksi minyak kini stabil di 1.700 barel per hari setelah sempat terhenti total.
ACEH TAMIANG, danantaranews.id – Pertamina EP Rantau Field terus mempercepat pemulihan produksi minyak dan gas bumi (migas) setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025. Tak hanya memulihkan fasilitas yang rusak, perusahaan juga telah melakukan tajak atau memulai pengeboran lima sumur baru untuk menjaga pasokan energi nasional.
Langkah tersebut menjadi bukti ketangguhan pekerja hulu migas dalam menjaga keberlanjutan produksi di tengah tantangan pascabencana. Setelah melewati serangkaian proses pemulihan, produksi minyak Pertamina EP Rantau Field kini kembali stabil di angka 1.700 barel per hari (bph).
Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan timnya menjalankan pemulihan secara bertahap hingga mampu mengembalikan performa produksi dalam waktu empat bulan. Perusahaan juga melanjutkan pengeboran untuk menemukan cadangan baru sekaligus mempertahankan tingkat produksi.
“Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas. Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional,” ujarnya.
Lima Sumur Baru Jadi Andalan Pertamina EP Rantau
Pertamina EP Rantau Field melakukan pengeboran lima sumur baru di dua desa di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Dua sumur berada di Kampung Tanjung Seumantoh, sedangkan tiga sumur lainnya berlokasi di Kampung Paya Meta.
Di Kampung Tanjung Seumantoh, perusahaan mengebor sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 menggunakan Rig APS-752 dengan kapasitas 550 HP. Sumur RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 meter measured depth (MMD), sementara RNT DZ-52 mencapai 1.037 MMD.
Sementara itu, di Kampung Paya Meta, perusahaan mengerjakan sumur RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33. Pengeboran sumur RNT DZ-11 menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP dengan kedalaman akhir 1.132 MMD, sedangkan dua sumur lainnya masih dalam proses pengeboran.
Pengeboran tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina EP Rantau Field untuk memperkuat keberlanjutan produksi sekaligus menggali potensi cadangan migas di Aceh Tamiang. Perusahaan menjalankan kegiatan ini sebagai bagian dari strategi mendukung ketahanan energi nasional.
Produksi Sempat Nol, Kini Kembali Bangkit
Banjir besar yang menerjang wilayah kerja Pertamina EP Rantau Field pada akhir November 2025 sempat melumpuhkan kegiatan produksi. Ketinggian air mencapai sekitar 4–4,5 meter, sementara endapan lumpur setebal 30–80 sentimeter merusak fasilitas produksi, perkantoran, dan permukiman pekerja.
Dampak bencana tidak hanya mengganggu aktivitas operasional, tetapi juga memutus pasokan listrik dan air bersih. Kondisi tersebut membuat produksi minyak sempat berhenti total hingga tim harus bekerja keras untuk mengaktifkan kembali fasilitas utama.
Namun, proses pemulihan menunjukkan hasil yang signifikan. Pada Mei dan Agustus 2026, produksi minyak Pertamina EP Rantau Field bahkan sempat mencapai 2.000 barel per hari, melampaui kondisi sebelum banjir.
Saat ini, produksi kembali stabil di level 1.700 barel per hari. Capaian tersebut memperlihatkan kemajuan pemulihan sekaligus menjadi modal bagi perusahaan untuk menjaga kesinambungan operasi melalui pengeboran sumur baru.
Empat Tahap Pemulihan Pascabanjir
Tomi menjelaskan bahwa tim Pertamina EP Rantau Field menjalankan empat fase pemulihan, yakni emergency, reactivation, recovery, dan sustainability. Setiap fase memiliki fokus berbeda, mulai dari penanganan kondisi darurat hingga penguatan sistem operasional untuk jangka panjang.
Pada tahap awal, perusahaan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar pekerja dan masyarakat, termasuk makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan listrik. Setelah kondisi mulai membaik, tim melanjutkan pekerjaan dengan mengaktifkan kembali fasilitas serta sumur-sumur produksi.
Pendekatan bertahap tersebut membantu perusahaan mengatur prioritas pemulihan sesuai tingkat kerusakan dan kebutuhan operasional. Dengan begitu, tim dapat menangani kebutuhan mendesak sekaligus menyiapkan fasilitas untuk mendukung keberlanjutan produksi.
Inovasi Menghidupkan Listrik Jadi Kunci
Salah satu tantangan terbesar dalam pemulihan adalah menghidupkan kembali pembangkit listrik yang menjadi jantung operasional Pertamina EP Rantau Field. Tanpa listrik, sejumlah fasilitas tidak dapat berfungsi, termasuk instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) yang sebelumnya terendam banjir.
Gangguan pada sistem kelistrikan juga membuat pompa tidak dapat bekerja sehingga produksi minyak terhenti. Karena itu, tim memprioritaskan pemulihan pasokan listrik agar fasilitas penting dapat kembali beroperasi.
Menurut Tomi, pembangkit listrik di wilayah kerja tersebut memanfaatkan gas dari sumur yang telah direaktivasi. Namun, banjir menyebabkan kerusakan berat pada High Pressure Compressor Station (HPCS), fasilitas yang sebelumnya menjadi sumber tunggal pasokan gas untuk pembangkit listrik.
Alih-alih langsung mengaktifkan kembali HPCS, tim melakukan analisis dan mencari alternatif untuk memulihkan pasokan gas. Mereka kemudian menemukan bahwa Stasiun Pengumpul SP-5 dapat mengambil alih fungsi HPCS setelah melalui sejumlah modifikasi.
“Pembangkit listrik di sini menggunakan gas dari sumur yang telah direaktivasi. Akibat banjir HPCS yang kami miliki mengalami kerusakan berat. Maka kami melakukan berbagai inovasi untuk bisa kembali menghidupkan listrik,” kata Tomi.
Inovasi tersebut membuat tim dapat mengatasi hambatan operasional tanpa harus bergantung pada satu fasilitas yang mengalami kerusakan berat. Saat ini, HPCS belum kembali aktif dan pasokan gas untuk pembangkit listrik berasal dari SP-5 serta SP-1.
Tomi menilai kondisi tersebut juga menjadi momentum bagi perusahaan untuk menyederhanakan sejumlah fasilitas operasional. Ketika pasokan listrik kembali pulih, tim dapat menggerakkan produksi yang sebelumnya terhenti hingga akhirnya kembali mencapai ribuan barel per hari.
“Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik,” ujarnya.
Bantuan Lintas Wilayah Percepat Pemulihan
Pemulihan dalam waktu empat bulan tidak terlepas dari dukungan pekerja Pertamina dari berbagai wilayah operasi. Sejumlah personel dari Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba, dan lapangan lainnya ikut membantu memperbaiki fasilitas serta memulihkan operasional Rantau Field.
Kolaborasi tersebut memperkuat kemampuan tim dalam menangani dampak banjir dan mempercepat pengaktifan kembali fasilitas produksi. Menurut Tomi, semangat kebersamaan menjadi salah satu faktor penting di balik keberhasilan pemulihan.
“Pulih lebih cepat ini bisa terwujud karena ada bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba dan sejumlah lapangan lainnya ikut terlibat aktif dalam pemulihan fasilitas Rantau Field. Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu,” katanya.
Dukungan lintas wilayah tersebut membantu perusahaan mengejar pemulihan yang sebelumnya diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun. Hasilnya, Pertamina EP Rantau Field dapat kembali menjalankan kegiatan produksi dalam waktu jauh lebih singkat.
Keselamatan Kerja Tetap Jadi Prioritas
Di tengah upaya memulihkan produksi dan mengebor sumur baru, Pertamina EP Rantau Field tetap menjalankan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam kegiatan operasional dan bisnisnya. Perusahaan merupakan bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 atau PHR Zona 1.
Tomi memastikan seluruh pekerja yang bertugas di atas rig telah mengikuti pelatihan wajib Health, Safety, Security and Environment (HSSE). Pelatihan tersebut meliputi Basic HSSE Training, Corporate Life Saving Rules (CLSR), Pertamina Well Control (PETROL), serta sertifikasi keahlian yang relevan dengan pekerjaan pengeboran.
Perusahaan juga memperkuat kolaborasi dengan kontraktor penyedia jasa rig dan SKK Migas untuk menjaga keselamatan serta kelancaran kegiatan pengeboran. Sinergi tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mempertahankan ketahanan energi nasional.
“Kolaborasi bersama pihak kontraktor penyedia jasa rig serta dukungan penuh yang diberikan oleh SKK Migas menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga ketahanan dan keberlanjutan energi nasional,” kata Tomi.
SKK Migas Beri Apresiasi atas Pemulihan Produksi
Keberhasilan Pertamina EP Rantau Field mempercepat pemulihan pascabanjir juga mendapat apresiasi dari Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Lembaga tersebut memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field pada 8 April 2026 atas kinerja percepatan pemulihan produksi setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya perusahaan dalam mengatasi kerusakan fasilitas, memulihkan pasokan listrik, dan mengembalikan produksi minyak. Di saat yang sama, pengeboran lima sumur baru menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada pemulihan, tetapi juga menjaga peluang produksi ke depan.
Dengan produksi yang kini stabil di angka 1.700 barel per hari dan capaian yang sempat menyentuh 2.000 barel per hari pada Mei serta Agustus 2026, Pertamina EP Rantau Field terus berupaya menjaga kontribusinya terhadap pasokan migas nasional. Tantangan pascabencana menjadi ujian bagi ketangguhan pekerja sekaligus mendorong inovasi dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Aceh Tamiang. (*)
Leave a comment