JAKARTA, danantaranews.id – Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk mengimpor Kereta Rel Listrik (KRL) bekas asal Jepang memasuki babak baru. Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menggelar pertemuan khusus dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi pada Jumat (2/10) guna membahas rencana tersebut secara mendalam.
Langkah ini diambil setelah PT KAI mengusulkan pengadaan 23 trainset KRL bekas dari Negeri Sakura untuk mengantisipasi lonjakan penumpang Jabodetabek yang kian meningkat.
Dony menegaskan, pihak Danantara belum mengambil keputusan final terkait persetujuan maupun skema pendanaan atas rencana impor tersebut. Menurutnya, seluruh opsi harus dihitung secara matang melalui analisis biaya dan manfaat (cost and benefit analysis).
“Nanti kan penjelasan bagaimana, kita mesti melihat cost and benefit-nya. Mana keuntungannya, apa yang kita dapatkan dari situ, karena kan ini menyangkut percepatan transportasi publik kita juga. Tapi nanti akan kita diskusikan dengan Pak Menhub,“ ujar Dony usai menghadiri acara Executive Breakfast Meeting IKA Fikom Unpad di Jakarta, Jumat (2/10).
Mengutamakan Kapasitas Produksi PT INKA
Selain pertimbangan nilai ekonomis dan kecepatan efisiensi transportasi publik, Dony menyoroti pentingnya memberi ruang bagi industri manufaktur dalam negeri, khususnya PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.
Ia menekankan bahwa opsi alternatif seperti impor bekas baru akan diambil jika kapasitas produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi total kebutuhan armada dalam waktu dekat.
“Kita balance-kan antara kebutuhannya dengan kapasitas produksinya INKA. Sisanya, itu yang akan kita lakukan alternatif,” tambah Dony.
Terkait keterlibatan pendanaan dari Danantara, Dony menyebutkan bahwa hal itu masih memerlukan kalkulasi teknis dan pembahasan lanjutan bersama kementerian terkait.
DPR Restui Pengadaan 23 Trainset KRL Bekas
Usulan pengadaan KRL bekas dari Jepang ini sebelumnya telah dipaparkan oleh Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI dan telah mengantongi persetujuan.
PT KAI mencatat adanya kebutuhan mendesak sebanyak 23 trainset tambahan untuk menjaga keandalan operasional KRL Jabodetabek. Rincian kebutuhan armada tersebut meliputi:
-
7 trainset dengan konfigurasi 12 kereta (Special Formation / SF12)
-
16 trainset dengan konfigurasi 8 kereta (Special Formation / SF8)
Lonjakan harian pengguna KRL di wilayah Jabodetabek menjadi alasan utama KAI mengajukan opsi impor KRL bekas sebagai solusi cepat (quick win) sebelum armada baru hasil produksi dalam negeri siap sepenuhnya.
Leave a comment