Home BUMN Kita Polemik KAI Beli KRL Bekas dari Jepang, Ini Respon MTI
BUMN Kita

Polemik KAI Beli KRL Bekas dari Jepang, Ini Respon MTI

Share
KRL Bekas
Share

JAKARTA, danantaranews.id – Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk mengimpor rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang mendapat dukungan dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Langkah ini dinilai sebagai solusi paling realistis untuk mengatasi lonjakan penumpang yang kian berdesakan di jam-jam sibuk.

Ketua Umum MTI, Haris Muhammadun, menegaskan bahwa KAI telah berpengalaman dan memiliki rekam jejak yang matang dalam merawat serta mengoperasikan KRL bekas asal Negeri Sakura tersebut.

“Kebutuhan layanan pergerakan masyarakat dengan angkutan massal jenis kereta ini sangat mendesak. Jika harus menunggu impor baru atau beli baru, prosesnya akan terlalu lama dan masyarakat terus-menerus berdesakan saat jam sibuk,” kata Haris di Jakarta, Senin.

Kondisi Masih Sangat Baik

Haris menjelaskan, selain kemampuan teknis KAI yang sudah teruji, sarana dan prasarana perkeretaapian di Indonesia juga sangat identik dengan sistem di Jepang. Hal ini membuat KRL bekas dari Jepang relatif dapat langsung dioperasikan dengan baik begitu tiba di Tanah Air.

Meski begitu, MTI memberikan catatan kritis terkait rencana pengadaan ini.

“Posisi MTI adalah setuju dengan sejumlah catatan, dan yang paling penting faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Transisi Produksi 

Secara terpisah, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, membeberkan bahwa opsi impor KRL bekas ini diambil sebagai langkah transisi sembari menunggu kesiapan kapasitas produksi dalam negeri.

Beberapa poin utama dibalik keputusan ini antara lain:

  • Usia Armada Tua: Banyak armada KRL yang beroperasi saat ini sudah menginjak usia di atas 40 tahun sehingga butuh peremajaan secepatnya.

  • Efisiensi Waktu Pengadaan: Pengadaan KRL bekas dari Jepang hanya membutuhkan waktu 1 hingga 2 bulan setelah persetujuan keluar.

  • Bandingkan dengan KRL Baru: Impor unit baru memakan waktu produksi 1 hingga 2 tahun, yang berisiko mengganggu kestabilan operasional dan rantai produksi dalam negeri.

“Ini sebagai transisi kita,” pungkasi Bobby terkait urgensi penambahan armada KRL demi menjaga keandalan transportasi massal harian masyarakat.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Turun

JAKARTA, danantaranews.id – Perkembangan harga logam mulia di Pegadaian mencatatkan penurunan tipis pada perdagangan hari ini. Berdasarkan pantauan resmi dari laman Pegadaian pada...

Buruan Daftar! Job Fair Jakarta Barat 2026 Hadirkan Ribuan Lowongan Kerja, Cek Jadwal & Lokasinya

JAKARTA, danantaranews.id – Bagi Anda yang sedang berburu pekerjaan, Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Sudinakertransgi) Jakarta Barat resmi menggelar ajang bursa...

Related Articles

Kabar Baik! BPJS Ketenagakerjaan Yogya Pangkas Iuran JKK & JKM Pekerja Pamsimas Hingga 50 Persen

YOGYAKARTA, danantaranews.id – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Yogyakarta membawa...

KPR Subsidi FLPP Tembus 160.070 Unit per September 2026, BP Tapera Kejar Target Program 3 Juta Rumah! 

JAKARTA, danantaranews.id – Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) melaporkan pencapaian...

Transisi Energi Bersih PLN EPI: Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja Hijau dan Buka Peluang Bisnis Baru Sektor Bioenergi

JAKARTA, danantaranews.id – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengungkapkan bahwa pemanfaatan...

Atasi Kelangkaan, Pertamina Tambah Pasokan BBM di Pulau Belitung: Pertalite dan Pertamax Dipastikan Aman!

PANGKALPINANG, danantaranews.id – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) bergerak cepat...