YOGYAKARTA, danantaranews.id – PT Pertamina Patra Niaga mencatatkan rekor baru dalam sejarah transisi energi nasional. Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan jenis biodiesel 50 persen (B50) dipastikan menembus 100 persen di seluruh pelosok Indonesia pada akhir September 2026.
Hingga saat ini, sebanyak 95 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di tanah air tercatat telah aktif mendistribusikan solar ramah lingkungan berbasis olahan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) ini.
“Sekitar 95 persen SPBU sudah mendistribusikan B50, sisanya itu menghabiskan stok B40 yang di Papua dan Maluku,” ungkap Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, dalam acara temu media di Terminal BBM Rewulu, Yogyakarta.
Pelopor Energi Hijau Tingkat Global
Implementasi mandatori B50 yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026 ini menobatkan Indonesia sebagai satu-satunya negara di dunia yang berhasil mengimplementasikan pencampuran 50 persen bahan bakar nabati ke dalam solar.
Keberhasilan program strategis ini memberikan berbagai dampak positif jangka panjang bagi Indonesia:
-
Penurunan Emisi Karbon: Kementerian ESDM mencatat implemetasi B50 berpotensi menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton setara CO2e pada 2026.
-
Penghematan Devisa Negara: Kebijakan ini diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun sepanjang tahun 2026 karena menekan angka impor solar.
-
Penyerapan Tenaga Kerja: Menciptakan lapangan kerja baru dan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja di sektor kelapa sawit dan pengolahan energi.
Siap Menuju Era B60 hingga B100
Pertamina Patra Niaga juga menyatakan kesiapannya untuk melangkah ke tahap lanjutan, yakni percepatan transisi menuju B60 hingga B100 (100 persen bahan bakar nabati). Kecepatan transisi tersebut akan disesuaikan dengan ketersediaan senyawa Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari pasokan kelapa sawit nasional.
“Kalau ketersediaan FAME cukup untuk kebutuhan bahan bakar akan bergeser ke B60 dan B100. Prosesnya berjalan, kami akan ikuti peta jalan yang ditentukan pemerintah,” tegas Eko.
Melalui lompatan teknologi dari B30, B35, B40, hingga B50 ini, Indonesia kian memperkokoh posisinya sebagai pemimpin global dalam pemanfaatan energi terbarukan berbasis nabati sekaligus menjaga ketahanan energi nasional secara mandiri.
Leave a comment