Jakarta, Danantaranews.id – Indonesia tengah memacu pembangunan berkelanjutan, dan Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) muncul sebagai pemain kunci. Organisasi ini mengerahkan kekuatan penuh dengan menyiagakan 3.800 pakar lingkungan tersertifikasi. Ribuan ahli ini menjadi motor penggerak utama dalam berbagai proyek vital, mulai dari penyediaan air bersih hingga sistem pengolahan limbah dan sampah yang lebih modern dan akuntabel.
Jamin Mutu Proyek, IATPI Fokus pada Standarisasi Kompetensi SDM
Langkah masif ini bukan tanpa alasan. Ketua Umum IATPI, Endra Atmawidjaja, menekankan bahwa kualitas infrastruktur hijau sangat bergantung pada keahlian orang-orang di belakangnya. IATPI memegang peranan vital dalam menyaring talenta terbaik agar setiap proyek lingkungan, baik milik pemerintah maupun swasta, benar-benar memenuhi standar profesionalisme yang ketat.
“Kunci dari sumber daya manusia yang bermutu adalah proses sertifikasi yang jelas. Kami memberikan jaminan itu agar setiap pengerjaan proyek dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maupun lingkungan,” ungkap Endra saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (15/06/2026).
Kini, IATPI tidak sekadar menjadi wadah berkumpulnya para ahli, melainkan bertransformasi menjadi pusat pengembangan bakat untuk sektor-sektor masa depan, seperti mitigasi emisi karbon dan perluasan lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs).
Transformasi Besar: Skema Sertifikasi IATPI Melonjak hingga 44 Jenis
Memasuki tahun 2026, IATPI melakukan gebrakan dengan menambah jenis layanan sertifikasi secara signifikan. Jika sebelumnya hanya ada 18 opsi, kini IATPI menyediakan hingga 44 skema sertifikasi keprofesian. Perluasan ini bertujuan untuk merangkul seluruh lini pekerja di sektor lingkungan, sehingga standar kompetensi tidak hanya menyasar level manajerial atau ahli utama saja.
Kini, tenaga teknis di lapangan seperti pengawas dan operator fasilitas lingkungan juga wajib mengantongi lisensi resmi. Endra mengibaratkan sertifikat ini sebagai “SIM” bagi para pengelola infrastruktur. Tanpa dokumen tersebut, risiko kegagalan operasional pada fasilitas air minum atau sampah akan jauh lebih tinggi.
Hadapi Teknologi Masa Depan dengan Penguatan Asesor Bersertifikat
IATPI menyadari bahwa kemunculan teknologi canggih seperti Waste to Energy dan Refuse Derived Fuel (RDF) membutuhkan operator yang paham teknis secara mendalam. Oleh karena itu, organisasi ini sedang giat menambah jumlah asesor kompetensi yang terafiliasi dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Upaya ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan program pengembangan kompetensi tahun 2025, yang telah melatih lebih dari 3.000 orang secara intensif. Dengan memperkuat barisan asesor, IATPI siap memenuhi lonjakan permintaan sertifikasi yang datang seiring dengan masifnya proyek-proyek lingkungan di seluruh wilayah Indonesia.
Menjaga Kepercayaan Publik Lewat Sertifikasi Ketat IATPI
Dengan keterlibatan 3.800 insinyur profesional, IATPI berupaya menumbuhkan rasa aman bagi masyarakat dan pemangku kepentingan. Kehadiran ahli yang tersertifikasi menjamin bahwa pengelolaan limbah dan air tidak akan memicu pencemaran baru. Standarisasi yang diterapkan IATPI menjadi benteng pertahanan terakhir dalam memastikan bahwa ambisi pembangunan hijau Indonesia dikelola oleh tangan-tangan yang memang ahli di bidangnya. (*)
Leave a comment