Jakarta, danantaranews.id – Dinamika politik internasional baru saja memasuki babak yang sangat krusial. Kehadiran Board of Peace (BoP) kini menjadi sorotan utama bagi para pengamat hubungan internasional dan aktivis kemanusiaan. Lembaga ini muncul sebagai angin segar yang berpotensi merombak tata kelola perdamaian global di tengah konflik yang semakin pelik.
Indonesia South-South Foundation (ISSF) melihat kemunculan BoP bukan sekadar formalitas, melainkan peluang emas bagi Indonesia untuk memperkuat taji diplomasinya. Dalam forum bertajuk “Board of Peace, Board of Uncertainty” di Tangerang Selatan, Senin (16/3), para intelektual muda berkumpul untuk membedah bagaimana lembaga ini bisa menjadi kunci bagi stabilitas dunia dan masa depan Palestina.
Strategi Diplomasi dari Akar Tradisi
Menariknya, diplomasi dalam Board of Peace tidak melulu soal politik kaku. Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, Muhammad Makmun Rasyid, mengingatkan kita bahwa berunding dengan pihak yang berseberangan memiliki akar kuat dalam sejarah. Beliau mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW melakukan Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy.
Strategi ini menunjukkan bahwa bernegosiasi bukan berarti kita setuju dengan lawan, melainkan cara cerdas untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar. Prinsip ini menjadi sangat relevan saat Indonesia harus bermanuver di antara kekuatan global untuk membela hak-hak Palestina melalui jalur diplomasi yang lebih moderat dan taktis.
Memperkuat Solusi Dua Negara di Panggung PBB
Satu poin yang paling menggetarkan adalah bagaimana Board of Peace bisa menjadi instrumen pelengkap mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Apalagi, lembaga ini sudah mendapatkan pengakuan melalui United Nations Security Council Resolution 2803. Hal ini memberikan legitimasi hukum yang kuat bagi setiap langkah yang diambil ke depan.
Director of Security and Defense ISSF, Fathira Salsabila, menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi tawar yang unik. Legitimasi moral kita sebagai negara yang konsisten mendukung kemerdekaan bangsa lain menjadi modal berharga di dalam BoP.
“Indonesia memiliki legitimasi moral dan diplomatik dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai, termasuk melalui pendekatan two-state solution yang juga kerap disampaikan dalam berbagai forum internasional,” tegas Fathira Salsabila.
Misi Besar: Rekonstruksi Gaza dan Kejelasan Struktur
Meski penuh harapan, tantangan besar tetap mengintai. Direktur Eksekutif ISSF, Akbar Azmi Hardjasasmita, mengingatkan bahwa efektivitas BoP sangat bergantung pada kejelasan mekanisme dan dukungan dari negara-negara anggota. Tanpa struktur yang kuat, lembaga ini berisiko hanya menjadi simbol semata.
Namun, keterlibatan aktif Indonesia dalam Board of Peace memberikan harapan nyata bahwa proses rekonstruksi Gaza tidak akan melenceng dari visi besar solusi dua negara. Indonesia berperan memastikan bahwa bantuan internasional dan pembangunan kembali wilayah konflik tidak sekadar urusan semen dan batu, tapi langkah pasti menuju kedaulatan Palestina.
Forum ini menegaskan bahwa Board of Peace adalah bagian dari dinamika baru yang harus kita kawal bersama secara konstruktif. Perjalanan menuju perdamaian abadi memang panjang, tapi dengan adanya instrumen baru ini, Indonesia punya lebih banyak ruang untuk bergerak. (*)
Leave a comment