Jakarta, danantaranews.id – Menjelang akhir Juli 2025, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan pinjaman jumbo senilai Rp163,19 triliun dari 12 bank asing. Pinjaman ini diberikan tanpa jaminan apa pun, dan menjadi bukti kuat bahwa institusi investasi nasional ini mendapat kepercayaan tinggi dari lembaga keuangan internasional.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa pinjaman tersebut merupakan fasilitas keuangan terbesar di kawasan ASEAN yang diberikan tanpa agunan. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini mencerminkan kepercayaan dunia internasional terhadap kinerja dan prospek Danantara Indonesia.
“Kita baru mendapatkan approval juga. Ini adalah bukti dari kepercayaan fasilitas terbesar di ASEAN yang diberikan kepada kita,” kata Rosan kepada awak media di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Jumat, 25 Juli 2025.
Rosan juga menambahkan bahwa bank-bank yang memberikan pinjaman semuanya berasal dari luar negeri dan memiliki kinerja yang baik. Namun, ia belum bersedia mengungkapkan nama-nama bank tersebut. “Semuanya bank luar negeri. Ini adalah murni kepercayaan mereka yang diberikan kepada Danantara,” ujarnya menegaskan.
Pendanaan besar ini disebut sebagai salah satu langkah strategis Danantara untuk mengamankan investasi di Indonesia. Menurut Rosan, dana ini akan digunakan sebagai pegangan penting dalam menggaet investor melalui penawaran proyek-proyek strategis.
Lebih lanjut, Rosan mengungkapkan bahwa empat bulan setelah Danantara resmi diluncurkan, lembaga ini juga telah berhasil menjalin kerja sama senilai USD 7 miliar dengan beberapa sovereign wealth fund lainnya. Ia mengatakan, Danantara saat ini juga sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan sejumlah pihak dari luar negeri untuk meningkatkan jumlah investasi yang masuk ke Indonesia.
“Kita sedang ada pembicaraan dengan sovereign wealth fund lainnya untuk bersama-sama berinvestasi, terutama di Indonesia,” jelas Rosan.
Tak hanya mengandalkan jalur keuangan, Danantara juga memperluas pengaruhnya lewat kerja sama strategis dengan Kementerian Luar Negeri. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia, dengan fokus pada penguatan akses terhadap modal, teknologi, dan kemitraan internasional.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan bahwa kemitraan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung transformasi ekonomi nasional dan menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Diplomasi ekonomi merupakan instrumen strategis yang dibutuhkan untuk merespons dinamika global secara proaktif. Danantara Indonesia hadir sebagai mitra kebijakan yang menjembatani potensi ekonomi Indonesia dengan arus investasi internasional yang konkret, terukur, dan berdampak jangka panjang,” ujar Pandu.
Menurut Pandu, dengan potensi aset yang diklaim melebihi USD 900 miliar, Danantara berambisi menjadi salah satu platform investasi kedaulatan (sovereign investment platform) kelas dunia. Ia menegaskan bahwa Danantara akan mengintegrasikan aspek finansial, sosial, dan lingkungan secara berimbang dan berkelanjutan.
Pandu juga menyebutkan bahwa para diplomat Indonesia di luar negeri memegang peranan penting dalam memperluas jaringan investasi. “Para Duta Besar dan perwakilan RI di luar negeri adalah ‘eyes dan ears’ bagi Danantara Indonesia dalam memperluas kemitraan dan akses terhadap pengetahuan, teknologi dan know-how,” katanya.
Dengan langkah-langkah strategis ini, Danantara tidak hanya menunjukkan kemampuan mengelola dana besar dari luar negeri, tetapi juga memperkuat fondasi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan dan inklusif di masa depan. (*)
Leave a comment