Jakarta, danantaranews.id – PT Hutama Karya (Persero) terus menunjukkan taringnya sebagai motor pembangunan infrastruktur nasional. Sepanjang tahun 2024, perusahaan pelat merah ini mencatatkan pertumbuhan signifikan, bukan cuma dari sisi finansial, tapi juga penyelesaian proyek-proyek strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Hutama Karya berhasil meraup laba bersih hingga Rp2,76 triliun, melonjak hampir 48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan konsolidasinya pun mencapai Rp30,25 triliun. Salah satu penopangnya adalah pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang sudah membentang sepanjang lebih dari 1.000 kilometer, serta proyek-proyek vital seperti bendungan, sistem penyediaan air bersih, dan infrastruktur pendukung Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Transformasi kami tidak berhenti di atas kertas. Kami wujudkan lewat proyek-proyek yang menyentuh langsung masyarakat dan memperkuat konektivitas nasional,” ujar Adjib Al Hakim, EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya.
Selain JTTS, perusahaan juga menggencarkan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), seperti yang diterapkan pada proyek Jalan Trans Papua, serta berbagai proyek fasilitas pendidikan, kesehatan, energi, dan transportasi. Selama 2024, Hutama Karya menambah 83,9 km jalan tol baru, merampungkan RSIA Sardjito, Menara Turyapada, Underpass Joglo, Fender Jembatan Pulau Balang, hingga PLTGU Muara Tawar dan Tambak Lorok.
Di balik semua itu, pencapaian keuangan dan operasional tersebut turut membawa Hutama Karya masuk dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 tahun 2024. Dalam daftar yang dirilis 17 Juni lalu, Hutama Karya berada di peringkat 177, menjadi BUMN infrastruktur Indonesia dengan posisi tertinggi.
Meski bangga, Adjib menyebut bahwa daftar Fortune hanya efek samping dari kerja nyata di lapangan. “Daftar Fortune memang membanggakan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana infrastruktur yang kami bangun membawa manfaat jangka panjang untuk masyarakat,” tegasnya.
Total aset Hutama Karya kini menembus Rp196 triliun. Dengan sokongan lebih dari 2.100 SDM, perusahaan optimistis mampu terus menambah portofolio proyek di wilayah strategis, termasuk Indonesia Timur dan kawasan IKN.
“Kami ingin pembangunan yang inklusif, tidak hanya terpusat di kota-kota besar. Maka dari itu, kami juga masuk ke Papua, Sumatera, Kalimantan, bahkan proyek IKN. Karena Indonesia maju, harus dimulai dari koneksi yang merata,” tutup Adjib. (*)
Leave a comment