Oleh: Dr. Tri Martini Patria, Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Energi Dan Manufaktur BRIN
Di tengah badai krisis iklim, konflik geopolitik, dan kerentanan rantai pasok global, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga kedaulatan pangan dan energi. Dua sektor vital ini bukan lagi sebatas isu teknis, melainkan soal hidup matinya sebuah bangsa. Dalam lanskap inilah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hadir dengan strategi ambisius bertajuk Optimizing Resource Valorization through Circular Economy Strategies: Enhancing Food and Energy Security via Sustainable Practices. Sebuah pendekatan sains yang berpijak pada paradigma ekonomi sirkular untuk membangun ketahanan yang berkelanjutan dan adil.
Menerjemahkan Ekonomi Sirkular ke dalam Aksi Nyata
Ekonomi sirkular sejatinya bukan konsep baru. Namun, implementasinya di Indonesia masih menghadapi kendala budaya, struktural, dan politis. BRIN mencoba membalik logika sistem produksi linier—ambil, pakai, buang—menjadi siklus tertutup yang menghargai setiap sumber daya hingga titik akhirnya. Limbah tidak lagi dianggap sampah, tetapi bahan mentah untuk siklus baru: plastik jadi bahan bakar, organik jadi pupuk, lahan marginal jadi ladang pangan.
Langkah ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan revolusi paradigma. Ia menuntut perubahan menyeluruh dalam cara kita memproduksi, mengonsumsi, dan memaknai keberlanjutan. Namun di sinilah ujian terbesarnya: apakah masyarakat kita—khususnya petani, pemulung, pelaku UMKM—siap dan dilibatkan dalam transformasi ini? Ataukah inovasi hanya berputar di ruang laboratorium dan forum ilmiah?
Ketahanan Pangan dan Energi: Satu Sistem, Dua Pilar
Salah satu kekuatan strategi BRIN terletak pada pendekatan sistemik yang menggabungkan ketahanan pangan dan energi ke dalam satu sistem strategi. Di era ini, pangan dan energi saling terkait erat. Pertanian butuh energi untuk irigasi, pengolahan, dan distribusi. Sebaliknya, bioenergi dan biomassa bergantung pada hasil pertanian dan limbah organik.
Data global menunjukkan urgensi ini: 783 juta orang di dunia kelaparan, dan 770 juta lainnya hidup tanpa listrik. Sementara Indonesia sendiri menghasilkan lebih dari 50 juta ton limbah pertanian per tahun—yang belum dimanfaatkan optimal sebagai sumber energi.
BRIN menjawab ini lewat inovasi seperti padi biosalin untuk lahan pesisir dan konversi sampah plastik menjadi pentasol. Tapi inovasi saja tak cukup. Dibutuhkan infrastruktur, edukasi publik, dan dukungan politik yang serius.
Tiga Paradoks dalam Penerapan Ekonomi Sirkular
Di balik visi besar BRIN, kita juga dihadapkan pada tiga paradoks serius:
Paradoks Inklusi
Teknologi sirkular sering kali hanya bisa diakses oleh korporasi besar dan lembaga riset elit. Pelaku akar rumput seperti petani kecil dan pemulung justru kerap tak diikutsertakan dalam sistem yang mereka gerakkan sejak awal.
Paradoks Infrastruktur
Tanpa listrik desa, akses internet, dan fasilitas pengolahan sampah, strategi sirkular hanya menjadi dokumen rencana dan seminar akademik.
Paradoks Regulasi
UU dan kebijakan kita belum ramah ekonomi sirkular. Sampah masih dilihat sebagai beban lingkungan, bukan sumber daya. Regulasi belum mendorong integrasi antara sektor energi, pertanian, dan lingkungan.
Prinsip “Tiga Pilar Sirkular Nusantara”
Untuk menjawab tantangan-tantangan ini, Indonesia memerlukan pendekatan khas: Tiga Pilar Sirkular Nusantara:
Kedaulatan Bahan Baku Lokal
Berhenti tergantung pada teknologi mahal dari luar. Gunakan inovasi lokal seperti biodigester dari UKM atau pupuk hayati dari mikroorganisme endemik.
Ekonomi Mikro sebagai Motor
Libatkan BUMDes, koperasi, dan startup hijau dalam sistem ekonomi sirkular. Desa adalah titik awal transformasi struktural.
Sains untuk Publik, Bukan Statistik
Riset BRIN harus menjadi solusi nyata, tidak cukup berhenti sebagai “proof of concept”, tapi menjadi “proof of transformation” yang berdampak langsung bagi rakyat.
Inovasi Harus Berpihak
Inovasi sejati tidak netral. Ia harus berpihak pada kesejahteraan rakyat, keberlanjutan ekosistem, dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, strategi BRIN merupakan langkah progresif yang harus diapresiasi—namun juga harus diawasi. Kita tak ingin ekonomi sirkular hanya menjadi alat greenwashing, atau sarana baru untuk monopoli teknologi dan kapital.
Masyarakat sipil harus mengambil peran aktif. Publik harus bertanya, kritis, dan menuntut transparansi. Transformasi menuju ekonomi sirkular harus menjadi gerakan sosial, bukan sekadar kebijakan teknokratik.
Menuju Revolusi Hijau Generasi Kedua
Ekonomi sirkular bukan semata proses daur ulang limbah, tetapi daur ulang nilai. Ia membangun kembali relasi manusia dengan alam, menciptakan sistem ekonomi yang tak hanya efisien tapi juga adil. Dalam realitas krisis iklim dan ketimpangan global, kita dihadapkan pada pilihan sejarah: bertahan dengan sistem linier yang usang, atau memelopori revolusi hijau generasi kedua.
Seperti kata Mahatma Gandhi: “ Be the change you want to see in the world”
BRIN telah memulai. Kini, giliran kita mengawal, mendukung, dan memastikan bahwa strategi ini bukan hanya agenda negara, tapi agenda rakyat. (*)
Leave a comment