Home Ekonomi Cadangan Devisa Turun akibat Stabilisasi Rupiah, BI Rate Dipertahankan di 5,5%
Ekonomi

Cadangan Devisa Turun akibat Stabilisasi Rupiah, BI Rate Dipertahankan di 5,5%

Share
Rupiah menguat ke Rp16.293 per dolar AS usai pidato dovish pejabat The Fed. Pasar menanti keputusan suku bunga pada akhir Juli
Ilustrasi Rupiah (Foto by pexels-robert-lens)
Share

Jakarta, Danantaranews.id – Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan sebesar US$1,6 miliar menjadi US$154,5 miliar pada Februari 2025, terutama karena upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang mencapai sekitar US$3,4 miliar.

Pada bulan yang sama, rupiah melemah 1,8% secara bulanan dan 5,6% secara tahunan, mencapai Rp16.600 per dolar AS. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan proyeksi suku bunga di level 5,5% untuk tahun 2025, dengan kemungkinan pemangkasan sebesar 25 basis poin.

Penurunan Cadangan Devisa untuk Stabilisasi Mata Uang Cadangan devisa turun dari US$156,1 miliar pada Januari 2025 ke US$154,5 miliar pada Februari 2025, menjadi penurunan terbesar dalam 11 bulan terakhir. Diperkirakan, sekitar US$3,4 miliar digunakan untuk menstabilkan rupiah. Namun, penurunan ini sebagian tertutupi oleh pendapatan ekspor minyak dan gas sebesar US$1,1 miliar serta pajak perdagangan internasional sekitar US$0,5 miliar.

Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa saat ini setara dengan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah. Menurut standar kecukupan cadangan devisa IMF, posisi ini masih 20% lebih tinggi dari batas minimum.

Tekanan Rupiah Berkurang Dengan menggunakan metode Exchange Market Pressure (EMP) dari Herrera & Garcia (1999), tekanan terhadap rupiah diprediksi menurun dalam satu bulan ke depan, turun ke level 0,96 dari 1,21 pada awal tahun fiskal 2025.

BI Rate Dipertahankan di 5,5%, Ketegangan Perdagangan Jadi Risiko Utama Bank Indonesia masih memproyeksikan suku bunga acuan tetap di 5,5% pada 2025, dengan kemungkinan pemangkasan 25 basis poin. Hal ini didorong oleh kebutuhan stimulus ekonomi serta rencana The Fed untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Namun, eskalasi ketegangan perdagangan global tetap menjadi risiko utama bagi stabilitas rupiah.

Dengan faktor-faktor ini, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp16.300 per dolar AS sepanjang 2025, naik dari Rp15.900 per dolar AS pada 2024.(*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Model Taktis JNE: Sukses Angkut 500 Ton Donasi Gratis Ongkir, Menjadi Tulang Punggung Bantuan Bencana Sumatera

Transformasi Logistik Menjadi Aksi Kemanusiaan: JNE Buktikan Kapasitas Distribusi Nasional Jakarta, danantaranews.id – Respons cepat dan terstruktur ditunjukkan oleh perusahaan logistik terdepan, JNE, dalam...

DPR RI Kirim 15 Ton Logistik ke Banjir Sumatera, Ahmad Sahroni Dampingi Pengiriman

Jakarta, danantaranews.id — Banjir besar yang melanda tiga provinsi di Sumatera membuat anggota DPR RI non aktif Ahmad Sahroni ikut memberikan dukungan kepedulian....

Related Articles

Rombak Aturan Hulu Migas: PUSKEPI Desak Pemerintah Wajibkan KKKS Pasok Minyak ke Pertamina

Jakarta, danantaranews.id – Kemandirian energi Indonesia kini kembali menjadi sorotan tajam di...

Menakar Kesiapan Energi Nasional: Mengapa Pertamina Patra Niaga Tetap Menjadi Tumpuan Saat Mudik Lebaran 2026?

Jakarta, danantaranews.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan dan hiruk-pikuk arus mudik...

Rupiah Dalam Bahaya! Ketegangan Nuklir AS-Iran Memuncak, Mata Uang Garuda Terjun Bebas ke Rp16.829

Jakarta, danantaranews.id – Kabar buruk kembali menghantam pasar keuangan tanah air. Nilai...

Urgensi Pemisahan Kementerian ESDM demi Masa Depan Transisi Energi Indonesia

Jakarta, danantaranews.id – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini menghadapi momentum krusial untuk...