Jakarta, Danantaranews.id – Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan sebesar US$1,6 miliar menjadi US$154,5 miliar pada Februari 2025, terutama karena upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang mencapai sekitar US$3,4 miliar.
Pada bulan yang sama, rupiah melemah 1,8% secara bulanan dan 5,6% secara tahunan, mencapai Rp16.600 per dolar AS. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan proyeksi suku bunga di level 5,5% untuk tahun 2025, dengan kemungkinan pemangkasan sebesar 25 basis poin.
Penurunan Cadangan Devisa untuk Stabilisasi Mata Uang Cadangan devisa turun dari US$156,1 miliar pada Januari 2025 ke US$154,5 miliar pada Februari 2025, menjadi penurunan terbesar dalam 11 bulan terakhir. Diperkirakan, sekitar US$3,4 miliar digunakan untuk menstabilkan rupiah. Namun, penurunan ini sebagian tertutupi oleh pendapatan ekspor minyak dan gas sebesar US$1,1 miliar serta pajak perdagangan internasional sekitar US$0,5 miliar.
Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa saat ini setara dengan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah. Menurut standar kecukupan cadangan devisa IMF, posisi ini masih 20% lebih tinggi dari batas minimum.
Tekanan Rupiah Berkurang Dengan menggunakan metode Exchange Market Pressure (EMP) dari Herrera & Garcia (1999), tekanan terhadap rupiah diprediksi menurun dalam satu bulan ke depan, turun ke level 0,96 dari 1,21 pada awal tahun fiskal 2025.
BI Rate Dipertahankan di 5,5%, Ketegangan Perdagangan Jadi Risiko Utama Bank Indonesia masih memproyeksikan suku bunga acuan tetap di 5,5% pada 2025, dengan kemungkinan pemangkasan 25 basis poin. Hal ini didorong oleh kebutuhan stimulus ekonomi serta rencana The Fed untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Namun, eskalasi ketegangan perdagangan global tetap menjadi risiko utama bagi stabilitas rupiah.
Dengan faktor-faktor ini, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp16.300 per dolar AS sepanjang 2025, naik dari Rp15.900 per dolar AS pada 2024.(*)
Leave a comment