JAKARTA, danantaranews.id – PT Pertamina Patra Niaga resmi mengumumkan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM), baik jenis subsidi maupun nonsubsidi, tidak mengalami perubahan per 1 Oktober 2026. Seluruh tarif BBM di tanah air masih dipatok sama dengan harga pada periode September 2026 sebelumnya.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa penetapan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap mengacu pada kebijakan pemerintah.
“Harga kedua BBM subsidi tersebut dipastikan bertahan dan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026,” katanya, Kamis (1/10/2026).
Sementara itu, penetapan tarif untuk kelompok BBM nonsubsidi masih terus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk dinamika harga minyak global serta kondisi ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, Pertamina memutuskan untuk masih menerapkan tarif yang sama dengan periode sebelumnya.
Berdasarkan data resmi Pertamina, harga BBM subsidi jenis Pertalite saat ini bertahan di angka Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar dipatok sebesar Rp6.800 per liter, di mana kedua harga ini dijamin stabil hingga akhir tahun.
Untuk jajaran BBM nonsubsidi, Pertamax dibanderol Rp15.950 per liter, Pertamax Green dijual seharga Rp19.150 per liter, dan Pertamax Turbo seharga Rp19.600 per liter. Adapun untuk varian bahan bakar diesel nonsubsidi, Dexlite ditetapkan sebesar Rp23.700 per liter dan Pertamina Dex seharga Rp25.200 per liter.
Kepastian tidak naiknya BBM subsidi di tengah gejolak pasar global ini juga diamini oleh pemerintah. Wakil Menteri ESDM Yuliot memastikan bahwa tarif Pertalite dan Biosolar akan terus ditahan dari kenaikan, meskipun harga minyak mentah dunia sempat melambung hingga menembus angka 107 dolar AS per barel.
Meski demikian, ia memberi sinyal bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi di masa mendatang tetap akan mengikuti rata-rata harga pasar minyak dunia dalam satu bulan.
Menanggapi kondisi pasar, Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, turut memberikan proyeksinya.
Berdasarkan kalkulasi rata-rata pergerakan pasar periode 25 Agustus hingga 25 September 2026, ia memperkirakan harga BBM nonsubsidi sebenarnya berpotensi mengalami penyesuaian kenaikan sebesar 5 hingga 11 persen apabila tren kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut.
Leave a comment