Home News BPS: Angka Kemiskinan Indonesia Turun Jadi 8,07 Persen Jadi 22,93 Juta Orang
News

BPS: Angka Kemiskinan Indonesia Turun Jadi 8,07 Persen Jadi 22,93 Juta Orang

Share
Ilustrasi Kemiskinan (net)
Share

JAKARTA, danantaranews.id – Tren pemulihan kesejahteraan masyarakat Indonesia menunjukkan sinyal positif yang makin kuat.

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin di tanah air mengalami penurunan signifikan sebanyak 430 ribu orang pada Maret 2026, sehingga angka keseluruhan menyusut menjadi 22,93 juta orang dibandingkan capaian September 2025 yang sempat menyentuh 23,36 juta orang.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menegaskan di Jakarta bahwa penyusutan jumlah tersebut berbanding lurus dengan turunnya tingkat kemiskinan nasional menjadi 8,07 persen.

Capaian ini membaik dari periode September tahun sebelumnya yang berada di level 8,25 persen. Jika ditarik dari grafik histori sejak Maret 2023 hingga Maret 2026, tren persentase dan populasi masyarakat miskin di Indonesia secara konsisten terus menunjukkan grafik penurunan.

Di sisi lain, batas minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar atau garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 tercatat berada di angka Rp669.235 per kapita setiap bulannya. Nilai tersebut mengalami penyesuaian naik sebesar 4,33 persen jika dibandingkan dengan posisi September 2025 yang berada di kisaran Rp641.443 per kapita per bulan.

BPS memberikan catatan bahwa pengukuran garis kemiskinan idealnya ditinjau dalam skala rumah tangga karena mayoritas alokasi pengeluaran masyarakat ditanggung bersama, mulai dari biaya hunian, pemakaian listrik, hingga pemenuhan kebutuhan pangan harian.

Pada Maret 2026, rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia dihuni oleh 4,62 anggota keluarga, di mana besaran nilai nominalnya bervariasi antarprovinsi akibat perbedaan tingkat harga pasar dan pola konsumsi lokal.

Ditinjau dari pemetaan wilayah, disparitas antara desa dan kota masih terlihat cukup mencolok. Persentase kemiskinan di kawasan perdesaan masih berada di angka 10,67 persen, sedangkan wilayah perkotaan mencatatkan angka yang jauh lebih rendah yaitu 6,34 persen. Meski begitu, kedua wilayah tersebut secara umum sama-sama mencatatkan tren penurunan persentase dibanding periode pengukuran sebelumnya.

Tantangan tersendiri muncul dari kualitas atau tingkat kedalaman kemiskinan itu sendiri. Indeks Kedalaman Kemiskinan maupun Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan perbaikan positif di area perkotaan karena jarak pengeluaran warga miskin kian mendekati garis kemiskinan.

Namun, kondisi sebaliknya terjadi di wilayah perdesaan, di mana ketimpangan antarpenghuni miskin tercatat sedikit melebar dan jarak pengeluarannya masih relatif menjauh dari batas garis kemiskinan.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Realme P4s Lite:HP Rp3 Jutaan dengan Baterai 7.000 mAh

JAKARTA, danantaranews.id – Realme kembali memperluas lini smartphone entry-level melalui Realme P4s Lite. Ponsel terbaru dari keluarga P4 series ini menawarkan sejumlah fitur...

Kilang Balongan Buka Pintu, Komunitas Motor Intip Langsung Rahasia Kualitas BBM Pertamina

Jakarta, danantaranews.id – PT Pertamina (Persero) memberikan pengalaman langka kepada 120 rider peserta Touring to Mandalika. Sebelum memacu sepeda motor menuju Pertamina Mandalika...

Related Articles

Program BSPS dan Target 3 Juta Rumah, Ini Pesan Tegas Ketua Komisi XI DPR

JAKARTA, danantaranews.id – Akses terhadap hunian yang layak dan sehat menjadi salah...

BPJS Kesehatan Buka Suara Isu Gagal Bayar Klaim Rumah Sakit, Begini Katanya!

JAKARTA, danantaranews.id – BPJS Kesehatan memberikan klarifikasi tegas merespons beredarnya isu liar...

Nekat Belum Setor Uang Negara, 91 SPPG Program Makan Bergizi Gratis Resmi Disuspen BGN

JAKARTA, danantaranews.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan taringnya dalam menegakkan transparansi...

Aturan Ganjil-Genap Jakarta Bakal Dihapus? Gubernur Pramono Anung Beri Sinyal Ini!

JAKARTA, danantaranews.id – Wacana evaluasi hingga potensi penghapusan sistem pembatasan kendaraan ganjil-genap...